Home > Opini > Darunnajah Mesjid Megah nan Istimewa

Darunnajah Mesjid Megah nan Istimewa

Oleh: Nur Iskandar

Istimewa sholat di Darunnajah, Serdam. Inilah saat saat istimewa di mana tiang listrik mendampingi mihrab dan mimbar. Ini pula saat istimewa di mana kayu bulat bentangor kukuh tegap di depan shaf pertama sekaligus pula kanan depan mimbar khutbah. Saat istimewa ini jangan dilewatkan bagi pejiarah sejarah. Sebab hal istimewa ini hanya terjadi di saat mesjid terbesar di Serdam ini sedang dirombak total. Sebelumnya mesjid ini hijau muda, luas, jugai Ndah arsitekturnya.

Saya tak kuasa menahan rasa istimewanya karena Isya tadi malam, Selasa, 21 Januari 2020 yang menjadi imam adalah Wakji Rahing. Ia sosok yang saya kenal dekat sejak kecil. Ia tokoh masyarakat Serdam, tetangga kami dulu, yang juga sahabat bapak saya membina Mesjid Ikhwanul Mukminin yang sekarang berdiri megah hanya 500 meter dari Simpang Mapolda. Ia membacakan QS Alhumazah dan Al-Ma’un. Dua surah juz 30 yang umum di kuping jamaah, namun lembut dengan tahsin yang pas. Saya kenal suara dan lagu Wakji Rahing dan sungguh menikmatinya melampaui masa masa kecil di Ikhwanul Mukminin yang kini Wakji Rahing menjadi imam di Darunnajah.

Darunnajah ketika berdiri di tahun 2007-an dapat dukungan warga Serdam bagian tengah hingga hulu. Berdiri di atas tanah wakaf keluarga Daeng Lemang. Ayah dari sohib saya Syahbandi yang kini berkhidmat di IKIP Pontianak. Suara Daeng Lemang juga moncer. Dulu di masa muda, Beliau muadzin. Sayang tadi malam bukan Beliau yang azan.

Dukungan dari keluarga kami juga total. Bapak dan emak merelalan beberapa pohon durian yang besar tinggi di belakang rumah ditebang, dichainsaw, dibuat papan mal. Papan mal ini untuk awal bangunan Darunnajah. Semoga kesemuanya jadi amal jariyah sampai kiamat. Amiin ya rabbal ‘alamiin.

Insyaallah rehab total kali ini akan cepat beres. Saya lihat banyak tokoh hebat duduk di kepanitiaannya. Dana belasan miliar akan terpenuhi. Apalagi Serdam ini daerah relijius. Banyak pengamal wakaf. Banyak yang ingin usia boleh putus tapi pahala mengalir terus. Artinya banyak orang smart bin cerdas…

Seingat saya sejak dulu di Serdam jika mereka berjual tanah, zakatnya disalurkan buat mesjid. Selain untuk ekonomi juga untuk Amaliah mesjid.

Bagi yang hendak berkontribusi wakaf pasir, semen, besi dll ke Darunnajah silahkan lihat poster di foto terupload di sini. Semoga Darunnajah jadi tanda mata kita dalam sejarah Serdam yang relijius. Pelengkap mesjid dengan halaman parkir luas, TPA yang bagus, serta lembaga ekonomi yang mensejahterakan umat.

Darunnajah jadi tanda mata di bagian hulu setelah bagian kuala berdiri megah Asyifa di RSUDS dan Almukminun di Serdam 1, kemudian Ikhwanul Mukminin dengan Kampus STIS. Lalu Mesjid Kapal Serdam dengan tower dakwah 6 tingkatnya… Masya Allah Serdam. Amsterdam: Ahmad Yani Masuk Sungai Raya Dalam… tabarakallah…nanti Ujung Serdam ada pelengkap lain KEP’s School of Universe. The Little Munzalan. Mesjid Nurul Hasan Kompleks TOP Munzalan Residence. KEP’s Agro dan KEP’s Eco City 🙂 Terus kita rajut benang emas sejarah Serdam yang relijius.

Berbagi itu indah:

Tulis Komentar

comments

About Nur Iskandar

Hobi menulis tumbuh amat subur ketika masuk Universitas Tanjungpura. Sejak 1992-1999 terlibat aktif di pers kampus. Di masa ini pula sempat mengenyam amanah sebagai Ketua Lembaga Pers Mahasiswa Islam (Lapmi) HMI Cabang Pontianak, Wapimred Tabloid Mahasiswa Mimbar Untan dan Presidium Wilayah Kalimantan PPMI (Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia). Karir di bidang jurnalistik dimulai di Radio Volare (1997-2001), Harian Equator (1999-2006), Harian Borneo Tribune dan hingga sekarang di teraju.id.

Check Also

Belajar Pancasila dari Sultan Hamid II Sang Perancang Lambang Negara

Oleh: Turiman Fachturahman Nur Terpaksa Prof Yudian saya ajari memahami Pancasila yang benar dengan semiotika …

teraju.id