Mendu dipentaskan secara berbabak. Pemeran Mendu harus memainkan peran yang sama secara terus-menerus. Dengan menceritakan rangkaian kisah sesuai tema yang diangkat. Lalu pemeran dengan karakteristik yang beragam akan menampilkan seni perannya. Pusat kegiatan Mendu adalah di Bunguran dan meluas ke Natuna, Anambas, Sungai Ulu, Pulau Tiga, Midai dan Siantan (Kalbar).
Awalnya teater Mendu dirintis oleh Nek Ketol. Teater ini kemudian dikembangkan oleh muridnya yang bernama Ali Kapot. Muridnya ini lalu membentuk kelompok teater Mendu di Desa Malikian, Kabupaten Mempawah. Kelompok ini terdiri dari tiga orang yaitu Ali Kapot, Amat Anta dan Achmad. Mereka kemudian mulai mengajarkan Mendu kepada masyarakat di desa lain pada tahun 1837.
Teater Mendu kemudian mulai dipentaskan di Sungai Jaga, Kabupaten Sambas, Mempawah, Tanjung, dan Mengkacak. Pementasan Mendu awalnya hanya dilakukan di kalangan masyarakat biasa, tetapi kemudian mulai menjadi bagian dari acara hiburan Kesultanan Mempawah. Selama periode tahun 1876 hingga 1943, pementasan Mendu didukung oleh Panembahan Kesultanan Mempawah.
Mendu kemudian dipentaskan di Kabupaten Pontianak, Kabupaten Sanggau, dan Kabupaten Ketapang. Pusat pementasannya berada di Mempawah, Ngabang, Sambas, Sungai Raya, Sungai Duri, Singkawang, Sekura, Tayan, Balai Karangan, Sungai Awan Kiri, Suka Baru, Sukadana, dan Simpang Hilir. Teatrikal Mendu, juga mempresentasikan seninya sebagai wadah informatif dan kritik terhadap realitas sosial, dan respon terhadap hukum maupun politik.
Sejarah dari kebudayaan seni peran seperti Mendu, perlu dijaga keberadaannya. Walaupun perhatian begitu kecil dari pemerintah, tapi tak menyurutkan langkah para penjaga marwah. Konsistensi dibutuhkan oleh budayawan, pegiat budaya, maupun seniman pelaksana Mendu sebagai produk kebudayaan masa lalu.
