Begitu cara yang ditempuh Nanang P Hidayat untuk membumikan Garuda, sekaligus menjadi solusi atas masalah-masalah Bangsa Indonesia. Tak terbilang gamblang mereduksi nafsu radikalitas maupun niatan menjadi teroris.
Pada hari pahlawan, 10 Nopember 2020 dewan juri Festival Nadi Khatulistiwa (Fena-2020) telah menetapkan nama Nanang P Hidayat sebagai penerima “Livetime Achievment Award” atas jasa-jasanya membumikan Pancasila melalui pendekatan seni dari tampilan lambang negara dimana kental dengan unsur-unsur kearifan lokal Nusantara. Tak terkecuali cara hebatnya menetaskan telur Garuda lewat sosialisasi sejarah Lambang Negara dengan cara kesenian wayang. Selama ini pun kurang digali serta dikreatifisir lalu direfresentasikan kepada publik Jawa maupun publik Tanah Air.

Kegelisahan yang sama menimpa Menteri Luar Negeri Dr Marti Martalegawa. Sebagai diplomat dia kerap ditanya tetamu mancanegara tentang betapa indahnya lencana yang dimiliki bangsa Indonesia. Garuda Pancasila yang kepak sayap melambangkan proklamasi kemerdekaan 17-8-(19-45).
Kepak sayap melambangkan angka 17. Gerai ekor sejumlah delapan, cerminan bulan Agustus. 19 helai bulu pada pangkal ekor, dan 45 di leher perlambang tahun 1945.
Marti Martalegawa menjabat Menteri Luar Negeri pada era Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono. Ia mengaku tidak tahu detail setiap tampilan lambang negara dalam Garuda.
Penasaran dengan kenyataan pertanyaan para diplomat manca, Marti kemudian membentuk tim dengan rujukan keilmiahan di Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kemenlu, yakni Museum Konferensi Asia Afrika (MKAA). MKAA kemudian bekerja dengan standar prosedural ilmiah untuk mencari tahu kedalaman lambang negara sampai ke kearifan-kearifan lokalnya.
