Figur Garuda dari Sintang itu cocok dengan masukan pendiri Taman Siswa di Yogyakarta, guru teladan Nusantara, Ki Hajar Dewantara kepada Sultan Hamid ketika merancang lambang negara sebelum Hamid mendarat di Sintang dengan pesawat capungnya. Ki Hajar Dewantara memberikan banyak foto Garuda yang telah abadi di goresan candi-candi sebagai peninggalan peradaban adiluhung yang bersemedi di Jawa. Peninggalan tokoh Brawijaya dengan Majapahit yang menguasai samudera.
Sultan Hamid mengakui bahwa pemilihan figur Garuda adalah sesuatu yang paling berat dalam merancang lambang negara. Begitupula dengan memasukkan butir idiologi Pancasila di dalam perisainya.
Hamid atas masukan tokoh Masyumi Muhammad Natsir mengganti figur Garuda menjadi elang rajawali, karena Garuda adalah mitos dan legenda. Dipilihlah figur Elang Rajawali karena endemik di garis Khatulistiwa. Elang punya sifat egaliter dan selalu terbang tinggi dengan gagahnya. Klop mewakili Nusantara. Cakarnya tajam. Sorot matanya brilian.
Elang juga menjadi figur yang banyak dipilih oleh negara-negara maju lainnya.Tak terkecuali Amerika Serikat, Mesir dan Polandia. Hal itu dia pelajari dari dalam ilmu arsitektur di ITB saat ia setahun menimba ilmu keteknikan, serta ilmu militer yang diselesaikannya di Breda, Belanda.
Faktor tersulit kedua dari proses rancangan lambang negara yang sampai kini kita pergunakan adalah perisai. Perisai ditemukan sebagai simbol pelindung dari segala ancaman maupun tantangan berbangsa dan bernegara, lalu apa isi tameng itu? Ditampilkanlah simbol-simbol kearifan lokal Nusantara. Simbol itu adalah bintang, rantai, beringin, banteng, padi dan kapas.

