“Kami mengusulkan burung Ruai dan Burung Enggang,” kata Massuka Djanting. Alasannya Ruai adalah burung cerdas dan bersih. Sarang dibangunnya dengan sangat teliti dan hati-hati. Namun Ruai ditolak Hamid karena berhabitat perbukitan. Dia terbang rendah. “Lambang negara mesti terbang tinggi dengan gagah berani,” kutip Massuka Djanting yang juga tokoh adat Dayak Taman. Dayak Taman bermukim di Putussibau, daerah tapal batas NKRI dan Malaysia. Antara Badau dan Lubuk Antu.
Figur Enggang yang dikeramatkan suku Dayak di Kalimantan juga ditolak Mayjen KNIL Sultan Hamid padahal indah dan punya korsa setia, bahkan menjadi mitos sebagai Dewa bagi aliran kepercayaan, animisme maupun dinamisme, agama leluhur adat turun temurun. Demikian karena enggang berhabitat hutan, dan tinggal di pucuk-pucuk pohon semata-mata–tidak egaliter. Enggang tidak melanglang buana menguasai angkasa. Hamid masih meneruskan riset–atau pencarian artefak ilmiahnya–untuk Indonesia Merdeka.

Sampailah Hamid berjumpa Residen Sintang, Ade Mohammad Djohan. Darinya Sultan Hamid membawa lambang kerajaan Sintang yang menggunakan profil Garuda. Garuda ini warisan Patih Lohgender dari Kerajaan Majapahit yang mempersunting anak Raja Sintang, Dara Juanti abad ke-14. Garuda telah hadir sebagai barang hantaran perkawinan Majapahit dan Sintang di gamelan serta gong dan diabadikan Kerajaan Sintang sebagai lambangnya sejak diikat tali pernikahan Patih Lohgender-Dara Juanti.

Sintang adalah wilayah yang tapal batasnya vis a vis dengan Negeri Jiran, Sarawak, Malaysia. Sultan Hamid tertarik karena Sintang menjadi simbolisasi mengamankan perbatasan – tapal batas wilayah Negara Indonesia Merdeka.