Kita diajarkan bahwa di atas semua kehendak kita ada kehendak Allah. Jika kehendak atau rencana kita tidak terlaksana, kita diajarkan untuk pasrah, menyerahkannya pada Allah.
Sekarang, bertemu dengan pandemi corona adalah takdir kita. Tidak pernah muncul dalam bayangan kita hidup seperti ini hanya dengan virus yang semula dianggap kecil dan remeh temeh.
Corona telah membawa dampak luar biasa. Bagi kita umat Islam, gegara corona, lebaran tahun ini berbeda dibandingkan dengan bayangan kita kemarin dan saat lebaran tahun lalu. Lebaran bersama dalam kemeriahan, bakal tidak hadir pada lebaran ini.
Inilah takdir kita bersama. Kira-kira, kehendak-Nya adalah kita lebaran tahun ini dalam suasana prihatin dan membatasi diri. Kue, rumah, mudik, kita nikmati dalam kesendirian. Kemenangan di ujung puasa, kita meriahkan dengan cara lain.
Kita akan menyambutnya dalam skala terbatas bersama keluarga. Konsumsi kue hanya untuk keluarga dan semoga bisa berbagi dengan tetangga. Rumah renovasi hanya ditengok sendiri. Lebaran hanya bersama keluarga atau teman terbatas.
Apakah semuanya terasa ada yang kurang? Apakah akan terasa hambar.
Mungkin. Tetapi, sebagai masyarakat visioner kita pasti kreatif. Toh, bagaimana suasananya kita sendiri yang menciptakan.
Esensi peringatan ada di hati masing-masing. Kalau dinikmati, ramai tidak ramai bukan masalah. Kalau tidak dinikmati, ramai dan tidak ramai pasti menjadi masalah. Jadi, yuk, nikmati saja!
Percayalah pada rahasia Allah di sana. Ada kebaikan yang Allah sediakan untuk kita di tengah kesendirian. Baik yang kebaikannya bisa dinikmati langsung, kontan, maupun kebaikan yang baru bisa dirasakan di masa-masa mendatang. Insyaallah. (*)
