Hari perhitungan seperti yang diyakini umat beragama khususnya Islam, secara perspektif syariat sebenarnya belum terjadi. Akan tetapi, melirik dari sudut pandang kausalitas sebenarnya sudah terjadi. Seorang yang malas-malasan dalam kesehariannya suatu saat akan mendapat kesusahan di masa depan, perhatikanlah mereka yang gagal, pengangguran dan hidup tidak karuan. Sebab utama atas perihal semacam ini adalah semata kemalasan dan tidak mau berupaya. Sebuah ungkapan yang masih terngiang di telinga saya bahwa hari ini adalah hasil atas upaya kemarin.
Seorang yang malas di masa mudanya akan dipaksa bekerja keras di waktu tua, karena sederhananya masa muda adalah masa yang paling tepat dalam mengembangkan potensi diri yang nikmatnya didapati ketika lansia.
Manusia dalam kehidupannya selalu mengonsepkan diri dengan nasib, bukan merupakan kecerdasan ketika kegagalan lantas didalihkan kepada nasib bahkan menyalahkan nasib. Nasib secara hakikat dapat diubah oleh individu masing-masing. Hanya saja karena kebiasaan menunda pekerjaan atau justru mengabaikan pekerjaan yang menjadikan nasib seorang individu jauh dari konsekuensi baik.
