Contoh kasus ialah seorang mahasiswa dalam proses kuliah tiba-tiba timbul keraguan dengan disiplin ilmu yang dipilihnya, entah itu karena susah memahami materi dari masing-masing mata kuliah yang ada atau faktor lainnya. Tidak bisa dipungkiri, mahasiswa rata-rata ketika ditanya alasan mengapa memilih jurusan di sebuah kampus lantas menjawab dengan menggaruk kepala, kening mengerut bahkan menggigit jari pertanda kebingungan sebenarnya apa yang mendasari mereka memasuki program studi mereka. Kejadian mahasiswa yang seperti ini adalah kelumrahan. Ketika saya duduk di bangku SMA, dulu di awal-awal sebelum memilih jurusan, pelajaran yang disukai adalah terkait Ilmu Sosial, kemudian singkat cerita memasuki akhir semester 2, setiap siswa diperintahkan untuk memilih jurusan, antara Ilmu Sosial atau Ilmu Alam.

Teman akrab saya pada waktu itu memilih Ilmu Alam, hingga saya kebingungan untuk memilih, tapi akhirnya Ilmu Alam menjadi pilihan yang sebenarnya tidak sepenuhnya niat hati di Ilmu Alam. Awal masuk semester 3 dan berada di lingkungan anak-anak IPA, seperti yang telah diketahui anak IPA identik dengan kepintaran mereka. Saya merasa berada di zona tidak aman karena kurang mampu dalam meresapi setiap pelajaran yang diajarkan. Lalu saya terpuruk dan sedikit stres sebabnya. Namun, karena tidak ada pilihan lain saya pun mencoba mengikuti proses. Seiring berjalannya waktu, perlahan saya sudah bisa beradaptasi dengan semua pelajaran IPA tersebut.