Menurut pengamat dari PT, selama ini peningkatan dan pemiliharaan prasarana, sarana, fasilitas dan pelayanan kesehatan di Kalbar berjalan lamban dan berada di bawah standar yang ditetapkan.
RSUD ini beroperasi 24 Oktober 2012, dan memiliki 10 dokter spesialis. Empat Spesialis Bedah Syaraf, 2 Penyakit Dalam, seorang Spesialis Kulit & Kelamin, 2 Spesialis Anak, dan seorang Spesialis Ostetri Ginekologi, ditambah 15 dokter Umum. RSUDSMA dilengkapi Instalasi Rawat Jalan (IRJ), Instalasi Rawat Inap (IRI) dan Instalasi Gawat Darurat (IGD). Kamar pasien untuk IRI tidak dikelompokkan berdasarkan tingkat ekonomi pasien. Namun, mereka memperoleh pelayanan sama. Ini menunjukkan RS ini berpihak pada rakyat

Gagasan Besar: Kemanusiaan dan Hankamnas

Keprihatinan para tokoh masyarakat atas rendahnya kondisi kesehatan di Kalbar, khususnya di kawasan pedalaman, memperoleh ‘gayung bersambut’ tidak hanya di Pontianak dengan beroperasinya RSUDSMA. Namun, upaya itu juga muncul dengan berdirinya RSUD II di Sintang atas prakarsa Paslon Gub, mantan Bupati Sintang. RSU ini sedang dalam proses penyelesaian. Standar atau tipenya lebih tinggi daripada RSUD yang ada di kota itu.

Inisiatif pendiriannya timbul tidak hanya atas desakan para tokoh masyarakat lintas agama dan etnis di KPJ. Pendirian RSUD II ini juga diharapkan mampu meningkatkan SDM dan mendongkrak APM /HDI, khusus 4 indikator lainnya di Kalbar dan khususnya di KPJ/IUA. Namun, kebutuhan RSUD yang lebih berkelas juga didasari pada fakta sosio ekonomi dan politik bahwa Sintang akan menjadi Ibu Kota Provinsi Kapuas Raya (PKR). Provinsi yang segera lahir ini, meliputi 5 kabupaten dalam KPJ/IUA: Sanggau, Sekadau, Melawi, Sintang dan Kapuas Hulu.

Program Kerja Unggulan