Saya kagum dengan Prof Syarif dengan intelektualitas dan integritasnya. Beliau menemukan hipotesa penting bagi kedamaian di Kalimantan Barat. Yakni hipotesa 2020. Di sana beliau menitipkan pesan, agar kedamaian Kalbar terjaga sehingga senantiasa menyalakan EWS berupa hipotesa 2020. Tentu beliau berharap dari pergumulannya dengan data konflik kekerasan di Kalbar, 2020 itu “chaos” bisa dihindarkan. Untuk itu pula beliau dengan semangat berapi-api mendirikan program pasca sarjana sosiologi dengan konsentrasi resolusi konflik. Pada awal perkuliahannya diberikan beasiswa bagi tokoh-tokoh lintas etnis di Kalbar. Jadi, kedamaian di Kalbar satu dasawarsa terakhir tak terlepas dari jasa Prof Syarif yang mendandani dari sisi akademisi. Lahir banyak master bertitel M.Si yang kerap juga diplesetkan sebagai Mahasiswa Syarif Ibrahim 🙂
Di tahun 2011 saya berkesempatan meluncurkan buku bersama Mabes Polri di Grand Sahid Jaya, Jalan Jenderal Soedirman, Jakarta. Buku yang saya tulis berjudul Cahaya Bhayangkara. Beliau turut diundang oleh Komjen Jusuf Manggabarani–sosok utama dalam biografi Cahaya Bhayangkara. Beliau hadir bersama budayawan A Halim Ramli dan tokoh kesultanan Max Jusuf Alkadrie maupun sejumlah tokoh Kalbar lainnya. Di sana Prof Syarif tampil enerjik sampai pada akhirnya Komjen Jusuf Manggabarani meminta Prof Syarif membedah buku Cahaya Bhayangkara lantaran mendapatkan anugerah MURI (Museum Rekor Indonesia) lantaran tercepat 1 bulan 4 hari dan tebal 444 halaman.
Kami kerap kali berkolaborasi. Sejak 1992 hingga kini. Tak terkecuali manakala Prof Syarif menerbitkan sejumlah buku dan bedah buku. Pujian kepadanya tak bisa dihitung dengan jari. Beliau tokoh intelektual yang menginspirasi. Sejak masa muda hingga kini tetap enerjik. Pemikirannya berapi-api. (* Direktur Pusdiklat TOP Indonesia dan Pemimpin Redaksi Media Online teraju.id)
