Keadaan yang kurang lebih sama tampaknya terjadi juga di Malaysia. Dalam perbincangan virtual dengan Prof. Dato’ Dr. Ahmad Murad Merican dari ISTAC-IIUM Kuala Lumpur, akademikus terkemuka Malaysia itu mengatakan bahwa sambutan dunia akademik di Malaysia juga dingin saja. Sementara itu, Prof. Dato’ Dr. Haji Awang Sariyan, Pengarah Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP), juga dalam perbincangan virtual dengan saya, mengatakan bahwa DBP berencana akan menggelar acara khusus (‘mengadakan acara khas’) tentang pantun dalam rangka menyambut dan merayakan pengakuan UNESCO ini. Dalam pada itu, dalam perbincangan virtual pula dengan Tan Sri Dato’ Seri Utama Rais Yatim, Yang Di-Pertua Dewan Negara Malaysia terkandung maksud dari Pengerusi dan Pengasas Yayasan Budi itu untuk merayakan pula kesuksesan ini. Mantan Penasihat Sosial dan Budaya Kerajaan Malaysia itu sangat menyambut gembira pengiktirafan pantun oleh UNESCO itu (lihat: https://www.utusan.com.my/berita/2020/12/rais-gembira-pantun-diiktiraf-unesco/; diakses 27-12-2020).

Sebagai warisan dunia takbenda/tak tampak, pengakuan pantun oleh UNESCO ini tentu selayaknya dapat mendorong rakyat Indonesia dan Malaysia, bahkan seyogianya juga negara-negara lain yang masih berada dalam rumpun Melayu Raya, untuk menyemarakkan kembali pemakaian genre puisi tradisional Melayu-Nusantara ini di masa sekarang. Jika warisan benda (seperti bangunan kuno dan situs-situs sejarah lainnya yang berwujud fisik) kita jaga dengan memugarnya, maka warisan berupa takbenda seperti pantun, walau sudah diiktiraf oleh UNESCO, tentu tidak akan terasa signifikansinya apabila tidak direvitalisasi oleh masyarakatnya di masa sekarang.