teraju.id, Pontianak – Hari ini 5 Februari spesial bagi saya. Lubuk organisasi yang menempa leadership Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) berulangtahun. 1947-2026. Yakin usaha sampai. Yakusa…

Hari ini juga ulang tahun emak. Guru pertamaku dalam hidup dan kehidupan. Seorang perempuan hebat. Penuh kasih sayang dan teladan.

Entah mengapa kami keluarga Aquarius. Februari. Takdir. Qadarullah…

Pada 5 Februari 1953 emak lahir sebagai anak kedua pasangan Toa (berubah nama menjadi Tohirah–saat berhaji pertama kali jamaah Kalbar menggunakan burung besi dari Bandara Sungai Durian) dengan Muhammad Sholeh (pria asal Kelapa Tinggi, Kampong Segedong).

Kakaknya Hatipah wafat di usia muda. Dimakamkan di lokasi pemakaman muslim, wakaf Sultan Qadriyah tepian Kapuas-Sungai Kapuas.

Sebagai anak kedua yang menjadi sulung, emak tertempa mandiri. Ia baru dapat adik dengan jarak yang jauh, hampir satu dasawarsa. Maka emak merindukan keluarga besar. Anaknya lima.

Menikah dengan putra pendiri Asyakirin, Geretak Tiga, Hasan Bin Abdurrahman, Bin Muhammad Nur, Bin Daeng Sagidu.

Emak hanya sekolah SD di kampung. Tapi ia belajar mengaji sampai juara MTQ. Seangkatan dengan Badariah Ismail sang juara internasional pertama Kalbar. Gurunya sama sama Ahmad Kebak di Kampong Kapor kampungnya maestro pantun TnG Agus Muare Rahman.

Emak dibesarkan dalam keluarga relijius. Tak kenal kata pacaran. Menurut emak, resep dapat suami teladan hanya berdoa. Doanya dikabulkan lewat budaya Bugis yang relijius. Emak mengaji, bapak guru agama muda tamatan PGA. Keluarga besarnya pendiri Mesjid tertua setelah Jami’ Kesultanan Qadriyah Pontianak, yakni Asyakirin Sungai Jawi dan Ikhwanul Mukminin Sungai Raya Dalam (1932).
Karena sepi hanya dua bersaudara, emak mau punya banyak anak. Dikabulkan juga.
Bang Nur Hasan lahir 7 Februari 1970. Saya anak ketiga. Kelahiran 13 Februari 1974.

Kakakku Nurmasyitah (1971) dan dua adik perempuan masing-masing Ida Afiati (1977) dan Lina Warda (1980).

Saat wafat akhir tahun lalu, emak meninggalkan 5 anak, 5 menantu dan 15 cucu serta 2 cicit.

Ultah Emak

Mungkin anak lelaki lebih dekat ke ibu dan anak perempuan lebih dekat ke bapak secara alamiah, saya dua malam lalu mimpi bersama emak. Beliau tidur dalam pangkuan saya.

Tubuhnya yang subur kurasakan ringan. Macam tiada beban.
Fisiknya yang saat muda kuat mengerjakan pekerjaan rumah tangga, terutama mencuci dan setrika kurasakan sangat lembut. Dan beliau tidur pulas.
Saat terbangun, saya tercenung. Rupanya bunga melati telah hadir menyapa fajar yang bergairah.

Isyarat apa ini? Saya anak yang paling lama menyusu badan sampai dapat adik baru ngebbet saja “ngenyot” bahkan oleh emak sampai diolesi balsem pun tetap ikhtiar ambil lap untuk dikesat, melihat almanak. Kalender. Batinku, emak mengingatkan ultahnya yang ke-73.

Beliau semasa hidup aktif “membacakan” doa bagi ibu-bapaknya yang juga nenek-kakekku. Begitupula almarhum ayah. Senantiasa diingat tanggal spesialnya, lalu dibacakan doa.

Karena kami dibesarkan di keluarga NU hibrid Muhammadiyah, beliau kerap berkata, “Kalau aku mati nanti, tadaklah kita’ meruahkan aku ye?”
Kami anak-anaknya hanya senyum dikulum. Sebab setiap tarikan napas kami zuriyatnya adalah pahala jariyahnya. Setiap huruf bacaan Al-Qur’an kami, mengalir juga kepada beliau pahala kebaikannya. Apalagi beliau merupakan Ratu Wakaf dalam keluarga besar kami.

Beliau bersama ayah berwakaf Madrasah Ibtidaiyah Imaduddin (kini lebih 1000 alumni) dan insya Allah akan bertambah lagi ke Akademi atau Institute Imaduddin.

Beliau juga berwakaf Mesjid Kapal Munzalan Mubarakan. Alhamdulillah kini bertumbuh 500 di seluruh Indonesia melalui leadership anak-anak muda kampung: Ayahman-Tokya dkk. Insya Allah akan menuju Intenational University of Munzalan Mubarakan.

Alhamdulillah wasyukurillah watabarakallah wanikmatillah.
Beliau terus memberikan teladan wakaf. Sampai kami lima bersaudara berikrar wakaf ahli atas tanah 22.5×400 atau 700 meter sebagai wakaf ahli produktif di Madinatul Munawwarah. Beliau yang membawa kami umroh atas finansial beliau yang sukses mengelola properti dari kamar tidurnya. Dan saya suka mencandai emak, “Emakku nih emak hebaaaaats,” puji saya.

Betapa tidak. Sukses mengelola kebun dengan jual daun pisang, buah rambutan, langsat dan durian. Juga kopi dan cengkih.
“Emak tuh bahasa anak sekarang entrepreneur,” kata saya kenak lebbuk genggaman beliau terkepal.

Emak juga sukses jualan bubur, bakso dan bolu pandan serta es batu. Saya dan Abang yang menjadi reseller. Wkwkwkwk. Menjual ke warung dan menarik piutang.
Di paro akhir hayatnya, emak bagi bangunan dengan developer. Tanahnya menjadi Kompleks Perumahan Raflesia Residence.

Alfatihah buat emak di alam barzakh. Lembut. Tenang. Muthmainnah. *