Saya bukan orang politik dan tentu memiliki perspektif berbeda dengan para politisi. Tetapi, lepas dari perbedaan itu, saya merasa pesan soal ini perlu disampaikan kepada orang yang bakal menjadi calon dan politisi yang berhak mencalonkan.

Inilah wujud sayang saya pada urang diri’ yang akan bertarung. Mereka perlu diingatkan untuk membatasi syahwat politik; jangan diturutkan semua keinginan, apalagi kalau keinginan itu didorong oleh orang lain yang memiliki agenda tersendiri.

Ingat, setelah pertarungan usai, orang lain akan pergi mencuci tangan menjauhi kita. Menang atau kalah, keadaannya akan kurang lebih sama situasi psikologisnya.

Saya akan merasa “golu” melihat teman menjadi korban dan diperalat oleh orang lain. Golu ketika melihat mereka jatuh terseok-seok.

Politisi pun juga perlu menimbang bahwa orang yang akan dicalonkan mestilah sosok yang terbaik yang dapat membawa Kapuas Hulu menjadi kabupaten maju. Ada media surveinya. Pilihan yang tepat saat mencalonkan seseorang pasti berkonsekuensi atau memiliki efek bagi partai dan dirinya di masa selanjutnya (ingat efek ujung baju).

Bayangkan, kalau kalah, kemudian dibenci orang sekampung dan kaban semua. Bukankah dia akan menjadi seperti jatuh dan tertimpa tangga? Bayangkan juga kalau menang tetapi mengabaikan etika dan hubungan keluarga, bukankah akan menjadi orang yang terkucil sampai tua-mati, sementara jabatan hanya sekian tahun saja?

Mari ingat warisan nenek moyang kita. Nenek moyang kita sudah mewariskan kearifan: dengan menyampai dan memelihara narasi urang diri’. Orang yang harus diperlakukan sebaik mungkin, seperti memperlakukan diri sendiri. Warisan ini mengajarkan persaudaraan, perhatian dan kecintaan. Sayang sekali jika warisan ini dirusak oleh kepentingan sesaat.