in

BNPT Bentengi Pemuda Agar Tidak Jadi Sasaran Terorisme

WhatsApp Image 2020 07 23 at 08.21.00

BNPT Bentengi Pemuda Agar Tidak Jadi Sasaran Terorisme

Terorisme menyasar kaum muda. Melalui media sosial, pesan-pesan disampaikan agar para pemuda bersedia menjadi simpatisan dan bagian dari aksi teroris. Untuk menghadapi hal tersebut pemuda harus dibentengi dengan pemahaman agama, wawasan kebangsaan, …

Demikian diingatkan sejumlah narasumber dalam kegiatan Pelatihan Pembuatan Video Pendek Kita Indonesia dan diskusi film yang dilaksanakan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) yang melibatkan pemuda di Pontianak, Rabu (22/7/2020).

Kegiatan yang diikuti oleh pemuda dari organisasi pemuda, pelajar sekolah dan guru pendamping, menampilkan narasumber Direktur Pencegahan BNPT Irjen Pol. Ir. Hamli, ME, Ketua Bidang Pemuda dan Pendidikan Friaidani Aswan, SH.,M.AP, Praktisi Film Adimas Ismail Albatati. Selain itu juga pengarahan dari Forum Kordinsasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Kalbar, Drs. Alexander Rombonang,MMA., dan Kepala Badan Kesbangpol Provinsi Kalbar, Drs. Hermanus, M. Si.

WhatsApp Image 2020 07 23 at 08.21.20

Hamli mengingatkan pelajar dan mahasiswa merupakan salah satu sasaran dari radikalime. Kalangan pemuda ini dapat dicuci otaknya, dijanjikan dengan berbagai hal, sehingga menjadi radikal. Dicontohkan, seorang pelaku bom bunuh diri di Jakarta, yang sempat membuat rekaman sebelum aksi.

Oleh karena itu, Hamli mengingatkan kepala para pelajar jika mendapat ajakan untuk radikal segera mengambil sikap menghindari atau laporkan. “Kalau di group-group media sosial, ada postingan-postingan yang anti negara, mengajak khilafah, keluar saja dari group itu,” ujarnya.

Untuk membentengi diri dari radikalisme itu, Hamli menyebutkan ada beberapa hal harus dimiliki. Pertama, wawasan keagamaan.

“Kenalilah agama anda dengan baik, jangan terlalu ke kiri, jangan pula melepas agama. Jangan juga beragama terlalu tekstual, saling menghormati agama, jangan menyalahkan di depan orangnya, baik agama Islam maupun Kristen dan agama lainnya, ada orang yang tidak mau menghormati bendera, karena dianggap syirik,” ujarnya.

Selain itu, diperlukan juga wawasan kebangsaan, wawasan sosial politik, bijak bersosial media, serta patuh pada pemerintah.

Ketua Bidang Pemuda dan Pendidikan, Friaidani juga mengingatkan hal yang sama. Pemuda diharapkan membentengi diri dari kemungkinan terperangkap radikalisme. Pemuda diperlukan perannya untuk mencegah radikalisme dan terorisme.
Menurut Friaidani, ada enam hal yang dapat dilakukan. Pertama, Pemuda memberikan pemahaman dan penjelasan kepada masyarakat mengenai bahaya radikalime. Kedua, pemuda menjaga toleransi antar umat beragama merupakan hal sangat penting untuk dijaga dan dilestarikan. Dengan adanya toleransi ini akan tercipta kehidupan yang damai dan harmonis tanpa adanya rasa permusuhan dan prasangka buruk.
Ketiga, selalu periksa kredibilitas informasi yang dibaca dengan merujuk pada media berita nasional. Keempat, memperluas pergaulan dengan orang yang berbeda latar belakang. Kelima, terlibat dalam gerakan dan kampanye perdamaian. Berorganisasi penting agar pemuda tidak menjadi seperti katak dalam tempurung. Keenam, melaporkan tindak tanduk yang mencurigakan. (Rilis/Humas FKPT Kalbar).

Written by Yusriadi

Redaktur pada media online teraju.id dan dosen IAIN Pontianak. Direktur Rumah Literasi FUAD IAIN Pontianak. Lulusan Program Doktoral ATMA Universiti Kebangsaan Malaysia, pada bidang etnolinguistik.

New Picture 1 1

Surat Terbuka tentang Sultan Hamid

WhatsApp Image 2020 07 23 at 08.23.01

“Ayok Kelepon”