in

Bung Noviansyah, Staf dan Buku Kampung Riset

kampun riset

Oleh: Yusriadi

Senin (25/01/2021) siang saya mendapatkan kiriman gambar istimewa. Gambar itu, sebuah sampul buku.

Ya, buku bagi saya selalu istimewa. Pertama, buku adalah wakil atau gambaran seorang penulis. Buku adalah pantulan yang mencerminkan isi, bobot, kapasitas, atau sejenisnya. Seseorang yang bisa menulis buku, apalagi menulis tanpa terpaksa karena mendapat nilai, naik pangkat, dan serupanya, pasti seorang yang luar biasa.

Dia pasti “petarung” atau “pekerja keras”. Petarung dalam menghadapi kesibukan, kesenangan semu, termasuk 1001 masalah atas nama rasa malas.

Kedua, buku ini istimewa karena ditulis oleh seorang staf di IAIN Pontianak. Seorang staf, pekerjaan sehari-harinya pastilah dibayangkan orang awam jauh dari buku, jauh dari tulisan, jauh dari kata-kata. Tulisan, kata-kata, hanya dekat dengan dosen, pendidik. Merekalah yang identik dengan dunia literasi itu.

Penulis ini, Bung Noviansyah namanya, keluar dari bayangan awam itu. Dia bisa mengakrabkan diri dengan kata-kata. Sejak awal kegiatan dia sudah menghasilkan beberapa esai yang diterbitkan di teraju.id.

Baca Juga:  Sekolah Diliburkan, Kegiatan KKL-DR Sambas 4 Difokuskan ke Penelitian

Saya kira tidak mudah baginya keluar dari kebiasaan awam itu. Pasti cukup banyak tantangannya. Dia pernah memberitahu saya sebagai seorang staf, tiap hari juga berhadapan dengan kata-kata. Mereka harus mengarang juga untuk memenuhi tugas kantoran. Oleh karena itu dengan merendah dia mengatakan bahwa sebenarnya menulis adalah pekerjaan mereka juga sebagai staf administrasi. Hanya saja tulisan itu tidak dijadikan buku atau makalah.

Saya meyakini, kegiatan ini telah memberikan semangat dan energi positif kepada dia. Sesuatu yang jika dikelola dengan baik pasti akan menjadi daya dukung produktivitas dan meningkatkan kinerja.

Ketiga, buku ini istimewa karena ditulis dalam rangkaian kegiatan Kampung Riset LP2M IAIN Pontianak 2020 lalu di Batu Ampar. Kala itu, kami melibatkan insan kampus, membuka kesempatan untuk semua orang, seperti yang disarankan.

Panitia membuat google form unuk pendaftaran bebas. Hanya ada syaratnya. Bersedia stanby di lapangan, bersedia menulis, dl… Menulis menjadi syarat karena kami ingin mempertahankan tradisi Kampung Riset: menghasilkan buku. Itulah out put kegiatan ini. Buku menjadi bukti ada kegiatan pengumpulan data lapangan. Ada narasumber dan informasi di sana yang bisa dimanfaatkan oleh siapa pun kelak.

Baca Juga:  BUAF ke-5, Wisata Akademik Mahasiswa IAIN Pontianak

Karena syarat itu, yang mendaftar tidak banyak. Lalu, last minute beberapa orang yang sudah mendaftar mengundurkan diri. Ada yang tiba-tiba sibuk, ada yang tidak mendapatkan izin istri-orang tua, ada yang takut corona dan gelombang, dll..

Nah, sisanya, ya… termasuk Bung Noviansyah ini. Dia bertahan di lapangan, mengumpulkan data dan menulis. Karena waktu di lapangan tidak cukup, menulis dilanjutkan ketika kembali.

Biasanya, orang akan rontok ketika kembali karena mereka disibukkan oleh kesibukan rutin. Tetapi, Bung Noviansyah tidak.

Karya ini telah lahir. Karya ini akan menjadi prasasti bagi dirinya dan bagi Kampung Riset. Terparti indah dalam memori kolektif.

Inilah letak istimewanya. Selamat, Bung! Anda layak dapat bintang! (*)

Written by Yusriadi

Redaktur pada media online teraju.id dan dosen IAIN Pontianak. Direktur Rumah Literasi FUAD IAIN Pontianak. Lulusan Program Doktoral ATMA Universiti Kebangsaan Malaysia, pada bidang etnolinguistik.

suistanable

Audiensi Dengan Kesbangpol Provinsi Kalbar: Kabid Organisasi Masyarakat Dukung Penuh Program Sustainable Management Awards 2021

Buku Kampung Riset

Buku untuk Pengantin