“Kemajuan teknologi di era globalisasi membuat informasi begitu cepat beredar luas, keberadaan internet sebagai media online membuat informasi yang belum terverifikasi benar dan tidaknya tersebar sangat cepat, seperti yang saya sampaikan ini adalah salah satu dampak dari kemajuan dan era globalisasi tersebut,” ungkapnya
Kembali berbicara tentang demokrasi, tahun ini kita telah melaksanakan Pilkada serentak dan Pemilu 2019 yang sudah memasuki tahapan kampanye, Kalimantan Barat yang syarat dengan kompleksitas serta karakteristik kerawanan tersendiri, pada Pilkada serentak 2018 KPU menetapkan indeks kerawanan pilkada pada rangking ke-2 paling rawan setelah Papua.
“Namun berkat kerjasama, soliditas antar stakeholder, elemen pemerintah dan profesionalitas penyelenggara Pemilu serta serta pemahaman masyarakat Kalbar yang selalu ingin menjadikan pesta demokrasi sebagai pesta yang syarat akan damai, tertib dan sejuk maka pelaksanaan Pilkada serentak 2018 Kalimantan Barat menjadi salah satu provinsi yang tersukses dan teraman,” tuturnya.
Menyikapi pemilu 2019 yang sudah memasuki tahapan kampanye tentunya hal-hal baik yang telah kita lakukan dalam mengawal, melancarkan dan mensukseskan pilkada kemarin menjadi contoh dan referensi kita bersama. “Ada beberapa ancaman ke depan yang harus kita identifikasi bersama dalam penyelengaraan pesta demokarasi 2019, seperti politik identitas, isu hoax/ujaran kebencian, dan konflik horisontal,” ungkapnya.
Penggunaan media sosial makin mengarah kepada ujaran kebencian dan bentuk-bentuk intoleransi serta informasi palsu (hoax) menjadi trending topic yang marak menghiasi jagad media sosial. Hal ini berlangsung khususnya di situasi politik tertentu, misalnya saat pemilu Pilpres dan Pileg 2019, dimana terdapat indikasi adanya persaingan politik yang dilakukan melalui media sosial,” tuturnya.
