“Di dalam salah satu chapter tesis saya itu, secara khusus membahas bagaimana peran Program Peduli dalam mendorong restorasi nilai-nilai budaya dan pengakuan terhadap masyarakat Adat Dayak Kenyah. Saya menyebutnya constructive engagement,” kata Asman.
Karena sejarah konflik yang panjang tersebut, serta konflik tenurial dengan pemodal membuat masyarakat adat Dayak Kenyah terpojok dan tidak memiliki ruang untuk hidup dan menjalankan nilai-nilai budaya mereka masyarakat adat yang sekaligus juga adalah warga negara.
Penelitian untuk tesis yang dilaksanakan selama pelaksanaan Program Peduli 2015-2016 di Lung Anai ini, membuat Asman (yang baru saja menyelesaikan studinya di Center for Religious and Cross Culture Studies (CRCS), Sekolah Pasca Sarjana UGM) diundang oleh Royal Norwegian Ministry of Climate and Environment dan UNDP untuk menghadiri pertemuan Interfaith rainforest initiative di kota Oslo, Norwegia pada 19-21 Juni 2017 mendatang.
Pertemuan Lintas Iman, deforestasi dan perubahan iklim ini adalah salah satu agenda terkait kerjasama antara pemerintah Indonesia dengan pemerintah Norwegia tentang RDD+ yang sudah dimulai sejak Mei 2010.
Terpilihnya Asman untuk menghadiri pertemuan tersebut, juga tidak terlepas dari locus penelitiannya yang mengambil studi kasus di Kaltim. Dimana hanya tinggal 3 pulau saja di Indonesia (Sumatera, Kalimantan, dan Papua) yang relatif masih punya hutan, namun juga sangat cepat laju deforestasinya. Dan hutan di ketiga pulau ini pula yang masih tersisa dan dapat diandalkan untuk mengurangi efek rumah kaca. (Mering)
