teraju.id, Pontianak– Inovasi berbasis budaya kembali datang dari daerah. Dari Kalimantan Barat, sebuah aplikasi bernama Pantunin AI resmi melakukan soft launching dan kini sudah bisa diunduh di Play Store. Aplikasi ini bukan sekadar teknologi. Ia lahir dari kegelisahan dan sedikit nekat.

Dikembangkan di Pontianak, Pantunin AI diklaim sebagai yang pertama di dunia yang secara khusus mengolah pantun dengan pendekatan kecerdasan buatan, namun tetap berpijak pada kaidah dan karakter sastra Melayu.

Di baliknya, ada proses yang tak mudah meski dikerjakan dalam waktu yang relatif singkat. “Aplikasi ini kami kerjakan maraton di 10 hari terakhir Ramadhan. Energinya beda, benar-benar menggebu. Target awalnya ingin launching pas hari raya, tapi meleset,” kata founder Pantunin AI, Yaser Syaifudin.

Ia mengakui, prosesnya tidak sesederhana yang dibayangkan. “Tidak mudah menghasilkan pantun dengan rima yang benar-benar pas, dengan rasa yang mendekati gaya Agus Muare. Itu tantangan terbesarnya. Dan kami masih terus menyempurnakan aplikasi ini,” ujarnya.

Lalu ia sempat tertawa kecil, seperti menjawab pertanyaan yang sering muncul. “Kalau memang mudah, tentu dari dulu platform besar seperti ChatGPT atau Gemini sudah bisa menghasilkan pantun seperti ini.”

Di situlah letak pembeda Pantunin AI. Algoritmanya tidak dibangun dari data umum semata, melainkan “diinjeksi” dari karya-karya maestro pantun Agus Muare. Hasilnya, pantun yang muncul tidak terasa mekanis: ada pola, ada irama, ada rasa. “Pantun yang dihasilkan bukan sekadar rangkaian kata. Ada struktur, ada nyawa. Kami ingin menghadirkan sesuatu yang lebih hidup,” kata Yaser.

Di tengah dunia digital yang serba cepat dan instan, Pantunin AI mengambil jalan berbeda: menghidupkan kembali tradisi lisan ke dalam ruang digital yang lebih personal.

Bagi Agus Muare, ini bukan soal aplikasi semata. “Pantun bukan sekadar susunan kata, melainkan marwah bangsa Melayu. Lewat aplikasi ini, kita ingin memastikan pantun tetap berdiri tegak, bukan sebagai kenangan, tapi sebagai identitas yang hidup di zaman sekarang,” ujarnya.

Ia juga melihat persoalan utama bukan pada minat, tapi pada keberanian. Banyak anak muda, kata dia, sebenarnya tertarik. Hanya saja mereka ragu memulai. “Ada ketakutan salah rima, salah suku kata. Aplikasi ini hadir untuk memutus rasa takut itu. Supaya generasi muda bisa mulai berpantun dengan cara yang lebih ringan, lebih santai… dan tetap membahagiakan,” katanya.

Secara teknis, Pantunin AI dibuat sesederhana mungkin. Pengguna cukup memilih tema lalu memasukkan kata kunci, dan dalam hitungan detik, pantun akan tersaji.

Dari situ, pengguna bisa memakainya untuk banyak hal, dari membalas chat, membuat caption media sosial, hingga kebutuhan konten kreatif.

Namun bagi Yaser, ini bukan sekadar soal kemudahan. “Digitalisasi adalah cara kita menjaga warisan. Dengan aplikasi ini, pantun tidak lagi hanya hidup di panggung pengantin atau acara adat, tapi masuk ke WhatsApp, Instagram, TikTok. Ia jadi bagian dari keseharian,” ujarnya.

Peluncuran ini sekaligus menjadi penanda: inovasi tidak harus lahir dari kota besar. Dari Kalimantan Barat, Pantunin AI mencoba menawarkan arah baru: teknologi yang tumbuh dari akar budaya lokal, namun punya peluang menjangkau lebih luas.

Ke depan, selain penyempurnaan kecerdasan Pantunin, juga masih akan menambahkan fitur komunitas, kurasi pantun pengguna, hingga integrasi lintas platform. “Ini baru awal. Kami ingin ini jadi gerakan bersama,” kata Yaser.

Dukungan pun mulai berdatangan. Direktur Utama Balai Pustaka, Achmad Fachrodji, bahkan menyampaikan apresiasinya lewat pantun. Sementara pengamat media sosial Ismail Fahmi memberi catatan sederhana: perbanyak distribusi di media sosial agar rasa penasaran publik tumbuh.

Dan mungkin, memang di situlah kuncinya. Pantun tidak perlu dipaksa kembali. Cukup dihadirkan… di tempat orang-orang sudah berada. Di layar. Di genggaman. Di keseharian.