Tema bicara kedua adalah kunkernya ke Johanesberg, Afrika. Sultan kagum akan kemajuan investasi di negeri emas hitam tersebut. Ia juga kagum dengan Pahlawan Syech Jusuf asal Sulsel di Capetown. Tampak sekali Melvin antusias dengan tata cara para tokoh membangun suatu wilayah. Dan Melvin mendayagunakan posisinya sebagai senator untuk membangun Pontianak, Kalbar, tanah kelahirannya.

Ia juga kagum dengan pengolahan sampah dan limbah di Jepang. Terutama ibukota Tokyo.

Selain padat modal, juga padat intelektual. “Mereka bisa. Kita juga pasti bisa,” Semangat.

Melvin ingin warga kita seperti warga Jepang. Tetap khas dengan kultur daerahnya, tapi maju peradaban internasionalnya. Melvin melihat warisan pemikiran genetiknya, seperti itulah adanya sejak Pontianak dibangun 1771 bersama Syarif Abdurrahman Alkadrie merupakan kota internasional.

Melvin mengisi waktu untuk menolong banyak masyarakat lemah. Terutama soal tanah adat yang diserahkan Kesultanan Pontianak kepada NKRI.

Salah satu yang diikuti jejaknya adalah wakaf Sulthan Annashira. Beliau memberikan rekomendasi bahwa Tanah Adat berhak dimiliki oleh masyarakat untuk bertani dan mewujudkan kesejahteraan. Baik lahiriah maupun batiniah.

Saya kagum dengan Sultan yang super sibuk dengan berbagai tamu maupun agenda kenegaraan sebagai senator. Ia berada di jajaran elit, namun tidak pelit berbagi waktu, gagasan dan pengalaman kepada siapa saja.
Saya harus tahu diri dan mohon pamit saat tetamu lainnya hadir. Antre.

Saya gunakan waktu salat Ashar di Mesjid Jami Abdurrahman Alkadrie dengan pemandangan sekitarnya yang sangat indah. *