Polri adalah aset utama Negara, memiliki sejarah dalam kehidupan politik nasional, mulai dari berdirinya Polri 1946 sampai dengan Reformasi Polri 2002 yang diiringi dengan perubahan Instrumental, struktural dan Kultural.

Sedangkan terkait reformasi Polri sejatinya sudah berjalan sejak 1998. “Tiga aspek itu kan, kultural, instrumental, struktural. Memang yang berat masalah kultural, masalah Kultur perilaku anggota untuk lebih humanis, perilaku yang non koruptif, pembenahan pada aspek pelayanan publik serta penegakan hukum yang profesional. “Dalam penegakan hukum semuanya harus dilakukan pembinaan, karena itu menyangkut masalah sub kultur organisasi, budaya yang sudah tidak tepat lagi harus ditinggalkan dan melakukan perubahan menuju era yang transparan, akuntabel, dan bebas dari KKN,” ujar Drs Erwin Triwanto.

Menyangkut rekrutmen anggota Polri, Drs Erwin Triwanto menegaskan, Polri mencari orang-orang terbaik untuk menjadi anggota polisi. “Karena rekrutmen seleksi awal itu sangat menentukan kinerja. Jangan hanya gara-gara satu kepentingan kita justru kehilangan sebuah aset terbaik Polri” Kalau memilih orang yang tidak tepat, orang yang salah, akan menjadi duri dalam organisasi dan masyarakat.

Tantangan tugas kedepan akan semakin cukup berat di masa mendatang. Karenanya, soliditas internal termasuk profesionalisme anggota Polri, sepatutnya diperkuat. Kalau di internal enggak cukup solid, bagaimana mungkin kita bisa hadapi tantangan itu dengan cara efektif.

Selain itu, kinerja anggota harus terus ditingkatkan untuk meraih dukungan kepercayaan dari masyarakat, Public Trust sangat dibutuhkan supaya kita tetap survive atau eksis dilapangan dalam melaksanakan tugas,” pinta Drs Erwin Triwanto.