teraju.id, Pontianak – Lebaran kali ini istimewa. Entah mengapa, perasaan lebih lega dan lapang. Untuk itu akan ngapain aja di waktu lebaran serba dischedulekan. Pertama tentu kepada paman-bibi terdekat–sebab kedua orang tua telah tiada–setelah internal keluarga batih seusai salat Idul Fitri–dan tetangga yang bersalat Idul Fitri di mesjid komplek Purnama Agung VII.

Kedua, cek jadwal, mana-mana yang telah dibuat janji? Salah satunya dengan suhu jurnalisme sastrawi Andreas Harsono. Kami janji jumpa di La Gramma. Kebetulan kumpul sejumlah aktivis lingkungan hidup. Ada Demanhuri Gustira bersama keluarga Aceh beserta Pak Martin didampingi istri Bu Sakti. Keduanya tokoh Kalimantan Barat asal Bengkayang. Ada pula Sapariah Saturi dan Diana. Keduanya istri dan putri dari jurnalis senior nasional yang bergerak di bidang hak azasi manusia Mas AH, alias Andreas Harsono.

Lebaran Tengkawang Hingga Sidney dan Timor Leste Dibalut Sastra Lisan.1

*

Lebaran ini lebaran Tengkawang. Sebab tematik Tengkawang sangat menarik. Dia buah yang menjadi denyut nadi ekonomi Kalimantan khususnya wilayah Barat sejak zaman baheulak sebelum masuknya karet dan sawit. Penghasil minyak nabati dengan berbagai manfaat.

Demanhuri selaku pegiat lingkungan hidup Kalimantan Barat fokus di Tengkawang. Saya pernah dijamu es krim Tengkawang yang lezat sekali di kafe Tengkawang miliknya, kawasan Asrama Mahasiswa Universitas Tanjungpura. Ia juga kerap bekerjasama internasional, khususnya Jepang dan Eropa soal khasiat Tengkawang maupun siklus biologinya.

“Minyak Tengkawang juga berkhasiat menghitamkan rambut loh,” kata istri Kang Deman asal Aceh. Spontan ibu beranak dua ini menyentuh kepala sang suami yang duduk di sebelahnya dan menunjukkan rambut yang dulunya memutih kini hitam kembali.

“Uban uban itu menua, lalu gugur. Anak-anak rambut yang baru tumbuh kembali hitam manfaat minyak rambut Tengkawang,” ulasnya. Kang Deman senyam-senyum.
Saya antusias. Mau beli minyak rambut Tengkawang racikan keluarga Kang Deman. Secara rambut pun mulai ubanan…

Soal manfaat Tengkawang tak sekedar es krim dan uban. Juga sampai ke penyehatan jantung! Ini sangat penting…menarik. Ilmu mahal. Mehong…Lebih mehong lagi ketika resep-resep itu semua dikumpulkan dengan ketelatenan mengunjungi, meneliti dan menghimpun kearifan-kearifan lokal tempatan.

“Oh, jadi gitu yah? Local wisdom juga,” petik Bu Sakti didampingi Sang Suami, Martin dimana Bengkayang daerahnya kaya akan buah Tengkawang, namun baru kali ini paham manfaat Tengkawang sehebat ini….

Lebaran Tengkawang Hingga Sidney dan Timor Leste Dibalut Sastra Lisan.3
Eksotiknya si buah Tengkawang

*

Pak Martin dan Bu Sakti mengelola lahan 20-30 ha di kawasan Ambawang. Pondoknya artistik. Uskup Agung pernah mengunjungi kebunnya. Ia anti sawit dan pro penyelamatan hutan. Maka 20-30 ha lahan miliknya dirawat sebagai hutan. Suatu saat kelak, saya yakin hutan ini akan jadi pusat studi kehutanan yang dijaga dengan hati yang setia menjaga kekayaan anugerah Tuhan yang tiada ada bandingan manfaatnya itu. Ada botani, hidrologi, sampai budaya…

Hanya saja ada masalah agraria di dalamnya. Di mana sebenarnya pemerintah semestinya berterimakasih kepada rakyat semacam Pak Martin dan Bu Sakti yang mau “turun gunung” mengolah lahan dengan kedua tangannya sendiri.

Keduanya pilih berdikari. Anaknya seorang kuliah di Belanda. Ambil ilmu hukum. Kedua anaknya lagi pilih sekolah di alam seperti kedua orang tuanya. Tak ingin ke politik. Tak ingin menjadi orang lain, tapi jadi diri sendiri yang berdikari dan membuka lapangan pekerjaan sesuai literasi yang dibaca. Baik buku maupun alam. Hebats. Mantaps. Jarang jarang ada generasi semacam ini.

Kami buat janji. Suatu saat akan ke hutan penjagaan Pak Martin dan Bu Sakti di Ambawang. Sosok yang istimewa. Pernah diterima oleh Paus di Vatican. Roma. Italia.

*

Kisah lingkungan hidup menyoal kepadatan manusia dan cara-caranya mengelola kehidupan.

Menarik sekali, putri Mas AH memilih masa depan menetap di Sydney. Tetangga kita: Australia. Gadis yang baru saja menjuarai Pop Singer di Shanghay ini suka pedestariannya. Semakin pro pejalan kaki. Beda dengan Indonesia yang pro motor dan mobil.

Dari Diana juga kami terkesima bahwa Pontianak di zaman Belanda punya planning membangun transportasi publik kereta api. Tujuan ke Sambas. Dan Kang Deman yang aktif di Tengkawang dengan habitat DAS Kapuas menemukan tapak rel. “Maka ada Bukit Rel di Pontianak Utara,” sambungnya. Kami membahas moda transportasi yang ramah lingkungan termasuk pedestarian.

Di dalam hati, saya kuatir, anak anak cerdas Indonesia pada kabur ke LN sebab tata kotanya tak ramah dengan lingkungan.

*

Lebaran Tengkawang Hingga Sidney dan Timor Leste Dibalut Sastra Lisan.2
Aktivitas Mas AH di Timor Leste wawancara bersama Menlu dan Ramos Horta

Mas Andreas ada di Pontianak? Begitu saya tersentak melihat postingannya di FaceBook. Beliau terbang setelah liputan panjang di Timor Leste. Berlebaran ke kampung halaman istri, Sapariah Saturi. Kebetulan kami sama sama wartawan Equator, anak Pontianak Post, cucu Jawa Pos dan sama sama kursus Jurnalisme Sastrawi yang diampu Mas AH serta Prof Janet Steele di Tempo, Jakarta. Seguru-seilmu. Hanya kemudian Ari sapaannya berjodoh sama Mas AH. Maka saban tahun mudik lebaran ke Bumi khaTULIStiwa. Sekaligus kami manfaatkan untuk berdiskusi ria. Sebab selalu kaya mozaik dan insight.

Saat kontak terbesit “menculik” Mas AH ke komunitas kami buat diskusi. Namun bentrok safar ke Singkawang. Syukur sudah ada aktivis lain, sohib, Subro, budayawan Madura yang ambil inisiatif menggelar diskusi tematik berat: International Jurisdiction. Sesuatu yang strategis bagi penegakan Hak Azasi Manusia. Terutama ketika negara abai pada HAM.
Sementara nafsu menggali ilmu dari suhu terobati di La Gramma.

*

“Bolehkah saya promosi?” Mas AH bertanya. Tentu kawanan yang melingkari meja dengan menu kopi dan “bake” khas La Gramma mengangguk. Setuju.

Beliau menarik foto foto di IPad miliknya. Menunjukkan desain rumah ekologis yang ditempatinya dengan tagline, “rumah kota — udara serasa hutan”. Diliput pula oleh konsultan ekologis. Ada cadangan 25 liter kubik air asal tadah hujan yang diputar sehingga bebas ketergantungan pada air galon apalagi air leding.
Para aktivis tertarik. Terpadunya idealisme dengan realisme. Dimulai dari diri sendiri dan sekarang juga.

Benar-benar lebaran yang bernas. Sekaligus menabalkan kesaktian sastra lisan tentang bertuahnya Kapuas: “Anak cicak jatuh ke teras// Entah berkaki entah tidak// Kalau sudah minum air Kapuas// Bisa-bisa balik kampung mendadak// Full senyum. Minal aidzin. Maaf lahir batin. *

Foto: Bu Sakti memegang buah Tengkawang dengan kekaguman atas derivasi manfaatnya secara ekonomi, ekologi dan kesehatan jantung.
Foto: eksotiknya si buah Tengkawang.
Foto: suasana ngopi dan diskusi di La Gramma kawasan Gajahmada Pontianak.
Foto: Aktivitas Mas AH di Timor Leste wawancara bersama Menlu dan Ramos Horta.