Dengan demikian urusan apapun menjadi cepat kelar. Di sini rahasia kehebatan beliau yang selalu berikrar bahwa walikota itu adalah wali-nya kota. “Walikota itu adalah public servant. Atau pelayan publik. Bukan minta dilayani publik.” Di masa jabatan Buchary yang mana Kalbar masih rawan gejolak sosial, pengungsian masih memenuhi sejumlah arena publik Kota Pontianak berhasil diurai satu per satu. Asrama Haji bisa difungsikan kembali. Begitupula GOR Pangsuma hingga Stadion Sultan Syarif Abdurrachman Alkadrie. Buchary juga merawat kota dengan penerangan di sekeliling tapal batas. Di bidang sepakbola yang digemarinya, Persipon juga berhasil lolos ke Liga Utama.
Di sana letak kehebatan beliau, namun di sana juga letak kelemahan beliau. Dari sejumlah nomenklatur bantuan sosial APBD dia terjerat kasus hukum sehingga masuk bui, walaupun dana yang terselewengkan dikembalikan.
Buchary “selembe” menjalani hukuman di hotel prodeo. Sikap “selembe” yang berakar dari jiwa ikhlas. Namun Tuhan Maha Baik. Dia Maha Tahu apa yang terbaik.
Di dalam jeruji besi Buchary tidak seperti napi lainnya. Dia dapat tempat terhormat sebagai dokter. Dia merawat pasien bahkan sipir penjara. Dia dieluk-elukan sebagai kepala klinik kesehatan. Apalagi di dalam rumah tahanan yang sama Buchary ternyata tidak sendiri. Dia juga bersama dengan sejumah pejabat publik lainnya, bahkan kepala daerah lainnya, termasuk paramedis, sehingga dia punya staf di klinik. Di sana pula Buchary menerima banyak tamu dan kolega yang berempati dengannya.
Dengan demikian dunia memang tak selebar daun kelor, atau tak bisa dibatasi dengan jeruji besi. Hubungan sosial tetap terjalin dengan mesra bersama Buchary.
