* Catatan Syafaruddin Usman MHD
Masih segar dalam ingatan. Masih terngiang dipendengaran. Begitulah pertemuan, percakapan, dan perjumpaan yang ternyata yang terakhir kali, antara saya dan Pak Darto. Innalillahi waina Ilaihirajiun … Pak Darto dengan lapang dan tenang menghembuskan napas yang terakhir. Sejak muda menyendiri, dan diakhir hayatnya pun ditempuh dengan kesendirian. Namun, tak sedikit kebaikan yang menemani, mengantarkan serta mengiringi kepergiannya.
Sejarawan, tokoh pendidik, sang guru yang bersahaja ini wafat dalam usia 83 tahun, setelah detak terakhir jantung kehidupannya tak lagi diteruskan, Rabu, 25 Januari sekitar pukul 5.
Pak Darto, meninggal dunia tanpa sakit yang diderita di usia senjanya. Karenanya, wajar bila tak sedikit mantan anak didiknya yang kini sudah banyak yang “jadi orang” melampaui sang guru, melepas dan mengantar keberangkatannya ke ala barzah.
Sekitar sebulan lalu, saya bersama rekan sejawat Juniar Purba dan Poltak Johansen, bersama merayakan ulang tahun Pak Darto, 83 tahun. Tak ada tiup lilin, tak juga tepuk riuh, kecuali doa dan peluk cium hangat kami bertiga untuknya. Seketika itu, mata orangtua yang santun bertutur dan ramah berbicara itu berkaca-kaca.
