Kedua, sewaktu berada di Jakarta pada akhir Maret lalu, saya survey kecil-kecilan. Saya bertanya dengan sejumlah rekan tentang kemenangan di TPS masing-masing cagub. Mereka mengakui bahwa di TPS Ahok, Ahok kalah. Namun di TPS yang mayoritas muslim, Ahok menang. Trend ini jika terjadi, maka Ahok berpeluang memenangkan Pilgub putaran kedua.
Tentang hal tersebut di atas kenapa bertentangan dengan realitas demo 212 dan seterusnya? Jawaban rekan-rekan di Jakarta, bahwa massa tersebut pada umumnya bukanlah warga Jakarta. Simple sekali.
Lalu bagaimana memilih di antara realitas 50:50 tersebut? Saya melihat kemenangan salah satu pihak akan sangat tipis. Oleh karena itu bisa-bisa berujung ke MK. Sasarannya tiada lain adalah kecurangan di dalam penyelenggaraan pemungutan suara. Kendati demikian saya berharap Jakarta tetap aman dan kondusif. Harapan tersebut bukan harapan kosong, karena pilkada di nusantara terbukti aman dan damai walaupun ada sengketa. Inilah Indonesia…
Kedua, kembali kepada esensi pemilihan pemimpin. Kita mesti memilih yang terbaik dari yang ada. Bahwa Ahok-Anies beserta pasangannya masing-masing adalah kader terbaik yang lolos penjaringan ketat sesuai undang-undang pilkada. Karakter masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Sementara organisasi pemerintahan adalah sistematis dan sistemik. Yang dibutuhkan adalah pemimpin yang efektif, efisien dan bisa menggerakkan dibarengi kesabaran. Pada akhirnya, posisi rasionalitas dan hati nurani pemilih akan sangat menentukan kepada siapa kepercayaan akan ditujukan.
