teraju.id, Jakarta— Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa kembali menghentak publik dengan gaya “koboi”-nya. Dalam konferensi pers APBN KiTa Edisi Desember 2025, 18/12. Purbaya tidak hanya menyajikan angka-angka kaku, tetapi benar-benar menguliti dapur fiskal negara secara langsung di hadapan jurnalis. Menanggapi tudingan bahwa gayanya bisa memicu kegaduhan, Purbaya justru menegaskan posisinya. “Jadi sepertinya saya koboy, tapi yang saya lakukan adalah mengembalikan kepercayaan masyarakat ke pemerintah. Saya perpanjangan tangan dari Bapak Presiden,” ujarnya dengan nada tegas.
Di sektor keuangan, Purbaya menunjukkan kepercayaan diri tinggi dalam mengelola kas negara, bahkan saat lembaga internasional memberikan prediksi pesimistis. Terkait laporan Bank Dunia soal potensi defisit, Purbaya menanggapi dengan santai namun menohok. “APBN kan di bawah kendali kita, bukan market yang jalan sendiri. Jadi defisitnya melebar apa enggak tergantung kepiawaian kita untuk mengendalikan belanja dan meningkatkan pendapatan,” tegasnya. Ia menambahkan bahwa perbaikan sistem melalui AI telah mulai membuahkan hasil nyata dalam menekan kebocoran.
Namun, idealisme transparansi ini perlu segera menular ke sektor perdagangan yang masih menghadapi tantangan berat dalam menjaga likuiditas dolar. Purbaya menekankan pentingnya aturan Devisa Hasil Ekspor (DHE) agar kekayaan alam Indonesia benar-benar dirasakan di dalam negeri. “Ini adalah sumber daya alam Indonesia. Kita ingin agar hasil dari ekspor kita sebanyak-banyaknya likuiditasnya beredar di Indonesia sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi,” kata Purbaya. Ketegasan ini seharusnya menjadi cermin bagi Kementerian terkait untuk lebih transparan dalam membuka data arus barang dan devisa secara real-time.
