Banyak teman saya yang mengatakan bahwa logat saya berbicara kental dengan khas logat jawa yang “medok”.
Dalam berkomunikasi sehari-hari saya masih sangat sulit untuk menggunakan bahasa Jawa. Saya masih paham jika ada yang menggunakan bahasa Jawa dalam berkomunikasi dengan saya, tetapi ada beberapa kosa kata yang asing di telinga.
Seperti kejadian saat liburan sekolah beberapa tahun yang lalu, ketika saya ikut pulang ke kampung halaman ibu saya di desa Kasromego, Kecamatan Beduai Sanggau, ada satu kejadian ketika saya salah merespon perkataan dari Bulek saya, “Dahar rumien ndok”. Saya pun bingung apa artinya. Saya berpikir mungkin Bulek saya menyuruh untuk mandi, ketika saya mencari handuk Bulek saya memberi saya piring dan sendok.
Saya baru sadar bahwa arti dari perkataan Bulek saya adalah menyuruh saya untuk makan. Hampir saja saya malu karena tidak mengetahui bahasa Jawa tersebut, bahasa Jawa yang digunakan Bulek saya adalah bahasa Jawa yang halus. Rasa menyesal karena tidak mempelajari bahasa orang tua saya belakangan datang. Beberapa orang tua dalam suku Jawa menganggap bahwa bahasa Jawa digunakan ketika berbicara dengan orang yang lebih tua itu menggambarkan kesopanan. Betapa ruginya saya tidak mengetahui bahasa ibu saya. (*)
