“Ri, besok Bang Fahri ke Pontianak, ada agenda seminar atau dialog di sana..” ucap kawan saya Tengku M. Dhani Iqbal melalui pesan WhatsApps-nya. Iqbal yang merupakan kawan lama dulu di Jakarta memang cukup dekat dengan Bang Fahri. Dahulu Bang Fahri sering bertandang ke kantor Lentera Timur yang memiliki media tangguhnya lenteratimur.com. Dulu saya sempat belajar menulis di sana, Iqbal adalah pimpinan media tersebut, diskusi rutin merupakan salah satu aktivitas di dalam perkumpulan itu. Selama di Jakarta, saya tak pernah sempat berjumpa Bang Fahri, adapun sekali kesempatan, kami tak berjodoh, selisih waktu di perjalanan.
Saya tak membuang kesempatan ketika Iqbal memberikan informasi atas kedatangan Bang Fahri ke Pontianak. Saya datang ke tempat agenda tersebut bersama Bang Turiman Fachturrahman Nur (Dosen FH Untan yang juga merupakan Peneliti Sejarah Hukum Lambang Negara). Selepas agenda Dialog Kebangsaan, saya langsung beranjak dari kursi untuk mendatangi Bang Fahri. Kami berkenalan. Saya sebutkan nama dan aktivitas yang kami lakukan. Bang Fahri cepat paham, tak lain karena buku tulisan kami bertiga (Saya, Bang Turiman, dan Bang Nur Iskandar) tentang “Sultan Hamid II Sang Perancang Lambang Negara” sudah sampai di tangannya.
