in ,

Temet Menyatukan Keluarga

kerupuk basah

Temet, orang sering menyebutnya kerupuk basah. Makanan khas masyarakat pesisir hulu Sungai Kapuas, Kalbar.

Makanan yang berbahan dasar ikan ini, dipadu dengan bumbu bawang putih, lada, garam dan penyedap rasa. Bisa juga ditambah dengan telur ayam saat membuat adonan.

Kemudian dicampur lagi dengan tepung kanji atau tepung sagu, bisa ditambah sedikit tepung terigu. Agar tekstur temet tidak terlalu liut saat digigit.

Sebagai bahan pendamping, bisa dibuat sambal kacang. Kacang tanah digoreng, kemudian haluskan, tumis dengan bumbu tambahan cabek kering, bawang merah atau bawang bombai, bawang putih, gula merah, serta beri sedikit air asam untuk menetralkan rasa pedasnya.
Dulu, saat awal menikah lidah orang tua dan adik-adik saya masih asing dengan makanan olahan ikan ini. Amis, katanya. Kalau saya sendiri jangan ditanya. Disuguhkan berapa pun, rasanya selalu lapar mata.

Tapi sekarang, kalau ada momen kumpul keluarga saya dan suami, menu ini tidak ketinggalan. Hampir selalu ada.

Tidak hanya keluarga besar suami yang selalu inisiatif membuatnya, orang tua dan adik-adik saya juga sering reques. Temet sudah akrab di lidah. Sudah bisa betale, bahasa Pontianaknya. Menikah tidak hanya penyatuan individu suami dan istri. Tapi juga menyatukan 2 keluarga besar, 2 budaya, 2 selera. Selera Jawa dan Hulu, sekarang sudah menyatu.

Baca Juga:  Warung Pass, Berkeliling Kalbar Lewat Kuliner

Dalam berbagai acara di rumah, Mbah sering masak ala Jawa. Urap, pecel, mendot, wajek. Sementara dalam kesempatan acara keluarga suami, masakan orang Ulu. Temet, ensabi, pucuk ubi tumbuk.

Dan itu sudah menjadi hal yang biasa sekarang. Lidah masing-masing tidak aneh lagi dengan makanan itu. Familiar sudah. (*)

Written by Ambaryani

Ambaryani, Pegawai Pemerintahan Kabupaten Kubu Raya. Lulusan Program Studi Komunikasi STAIN Pontianak. Buku berjudul; 1. Pesona Kubu Raya 2. Kubu 360 adalah buku yang ditulisnya selama menjadi ASN Kabupaten Kubu Raya

digitec

8 Seri Jam Digitech Pria Terbaru Paling Canggih

anak sekolah di pandemi.2

Debar-debar Anak Belajar di Sekolah