“Peringatan di Kalbar kali ini menunjukkan kolaborasi sejati antara Balai Bahasa dan BI serta GenBI, Duta Bahasa maupun tokoh adat dan budayawan daerah. Kita petik manfaat sejarah Bengali tanpa harus berdarah karena negara hadir melindungi bahasa ibu dengan trigatra bangun bahasa. Utamakan bahasa persatuan, lestarikan bahasa daerah dan kuasai bahasa asing.”

Pantun membahana di Gedung BI. Dimulai dari Master of Ceremony. Sepasang muda-mudi. Dilanjutkan Kepala Balai Bahasa Provinsi Ibu Dr Uniawati dan Kepala BI Pak Doni Septadijaya. Apalagi tiga narasumber masing-masing saya, Afifah dan Paturahman. Dua nama terakhir mewakili generasi muda Kalbar unsur Duta Bahasa dan GenBI. Bahkan pertanyaan peserta (Ibu Dara dan Sophian Sadikun) hingga penceramah buka puasa bersama Ustadz H Mahmud dari Kanwil Kementerian Agama banjir pantun. Tergelak tawa dengan level sopan santun.
Derai tawa penuh makna, bagaimana pantun yang egaliter, plural, majemuk bisa menggapai asa, rasa dan karsa bahasa ibu sebagai alat diplomasi budaya menggairahkan the right state. Beat spirit meraih Indonesia emas in the next 19th years!
Spirit nan gemuruh disejukkan dengan segelas rujak buah serta penganan buka puasa. Azan maghrib dan salat berjamaah serta dinner membuncah refleksi HBII yang spesial bulan edukasi Ramadhan.
Ke depan terbentang titik terang sebagai berikut. Pertama, kolaborasi elegan ini kudu ditingkatkan.
Kedua: bahasa ibu harus diberdayakan. Keterampilan berbahasa dan sastra termasuk sastra lisan pantun, dongeng, stand-up comedy, pidato, puisi, tundang. Totally mesti diperbanyak titik sentuhnya agar profesional. Ia bisa menjadi agenda ekonomi kreatif. Wisata halal lagi thoyib (baik bin berkah) serta mensejahterakan rakyat dimana kini sebagian masih melarat.
