Presiden Soekarno tahun 1964 mendesak Partai Katolik menerbitkan koran. Sejumlah tokoh Katolik terkemuka seperti P.K. Ojong, Jakob Oetama, R.G. Doeriat, Frans Xaverius Seda, Policarpus Swantoro, R. Soekarsono, mengadakan pertemuan dengan pihak Majelis Agung Wali Gereja Indonesia (MAWI) yang terdiri dari unsur Partai Katolik, Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Pemuda Katolik dan Wanita Katolik. Mereka mendirikan Yayasan Bentara Rakyat, dengan susunan pengurus Ignatius Joseph Kasimo (Ketua Partai Katolik) sebagai ketua. Frans Seda (Menteri Perkebunan dalam kabinet Soekarno)wakil ketua, F.C. Palaunsuka penulis I, Jakob Oetama penulis II, dan P.K. Ojong sebagai bendahara. Yayasan Bentara Rakyat inilah yang menerbitkan Harian Bentara Rakyat yang belakangan menjadi Harian Kompas atas saran Presiden Soekarno. Sebagian redaksinya adalah wartawan Katolik yang direkrut dari Redaksi Intisari.

Plesetan Kompas

Pergantian nama ini menimbulkan protes, antara lain dari kalangan warga Medan sebab kompas atau ngompas di sana artinya memeras. Harian Bintang Timur dan Harian Rakyat menjadikannya bahan olok-olok, menulis bahwa Kompas artinya Komando Pastor lantaran pendirinya Partai Katolik. Ada pula yang bilang Kompas artinya Komando Pak Seda. Karena harian itu sering terlambat terbit, Kompas diplesetkan jadi Komt Pas Morgen, artinya “Kompas yang datang pada keesokan harinya.”

“Kami berdua sebenarnya enggan menerima permintaan menerbitkan suratkabar Kompas. Lingkungan politik, ekonomi, dan infrastruktur pada masa itu tidak menunjang,” tulis Jakob Oetama dalam artikel “Mengantar Kepergian P.K. Ojong” (Kompas, 2 Juni 1980). Pada masa awal penerbitan tersebut, jemaat gereja Katolik di daerah-daerah diimbau berlangganan Kompas. Sedang murid-murid di sekolah-sekolah Katolik disarankan berlangganan majalah Anak Bentara.
Edisi Perdana