Menurut hasil penelitian tahun 1986/87 yang dilakukan oleh Survey Research Indonesia (SRI) di delapan kota besar di Indonesia, jumlah pembaca Kompas sekitar 1.746.000 orang. Karyawan Kompas yang semula cuma sekitar 50 orang, menurut data resmi Ditjen Pembinaan Pers dan Grafika Departemen Penerangan (1987/88) menjadi 382 orang (terdiri 318 pria dan 64 wanita) namun belum seorang pun ikut dalam pemilikan modal. Menurut Ditjen PPG, wartawan Kompas tahun 1987/88 berjumlah 137 orang, terdiri 93 orang lulusan SLTA dan 43 orang sarjana atau sarjana muda dan hanya 109 orang yang menjadi anggota PWI (Persatuan Wartawan Indonesia). Sedang menurut catatan data di redaksi Kompas, akhir tahun 1987 ada sekitar 105 orang wartawan dan koresponden yang terdiri sekitar 40 orang sarjana dan 60 lulusan akademi atau drop out perguruan tinggi dan lima lulusan SLTA. Yang berusia 25-34 tahun tercatat 23 orang, selebihnya berusia 35 tahun ke atas.

Seluruh karyawan KKG pada tahun 1988 sekitar 2.750 orang dan tahun 1991 berkisar 3.100 orang. Ojong ketika mendirikan Kompas mengharapkan media itu mampu mempertahankan jatidiri dan menjaga jarak dengan pihak-pihak lain agar bisa melangkah bebas. Ketika KKG sudah makin besar, Jakob Oetama selaku Pemimpin Umum Kompas dan sekaligus pemimpin KKG berkali-kali mengingatkan bahwa nasib sekitar 3.000 karyawan KKG sangat tergantung pada kemampuan Kompas mempertahankan kehadirannya. Jakob dalam berbagai kesempatan selalu mengingatkan seluruh redaksi Kompas agar berhati-hati dalam menyusun laporan atau naskah berita.

Visi Kompas menurut Jakob