Kita membangun dalam pikiran kita mengenai itu semua, lalu mereaksinya secara emosional. Misalnya, manakala mengendara menuju rumah, kita melihat lampu warna warni menyala di depan kita dan sirene meraung-raung, kita tiba-tiba berpikir bahwa akan ada mobil polisi menghampiri. Kita khawatir sesuatu yang buruk akan terjadi. Padahal, barangkali saja itu iring-iringan pawai atau yang lainnya.

Jalan menurun agak sedikit lain. Masih mulai dengan beberapa informasi sensory, seperti pemandangan atau suara. Ibarat bendera yang diasosiasikan dengan emosi yang sarat dengan emosi dan peristiwa-peristiwa traumatik lainnya. Misalnya, jika seseorang yang pernah mengalami meledaknya tabung gas, yang bersangkutan bila mencium bau gas, tiba-tiba merasa bahwa sesuatu akan terjadi. Otak kita secepat kilat bekerja, mengirimkan pesan ke emergency systems dan sesegera mungkin syaraf meresponsnya bekerja untuk mengatasi masalah.

Meski reaksi usus itu muncul secara otomatis dan tiba-tiba, hal itu dapat masuk jalur jalan menanjak sebagai reaksi atas pemikiran. Misalnya, kita sudah menghabiskan banyak waktu dan investasi untuk suatu usaha. Tiba-tiba, kita kehilangan aset karena dicurangi karyawan. Kita mengalami reaksi usus, yang membuat kita selanjutnya merasa kapok dan selalu curiga pada hal yang serupa. Takut kalau-kalau kejadian masa lampau terulang lagi. Emosi pada aras bawah dapat masuk jalan menanjak.

Oleh karena itu, emosi adalah sebuah proses, bukan sesuatu yang tidak berubah-ubah. Namun, manakala mengalami reaksi usus, bukan berarti bahwa kita terjebak dalam lingkaran setan emosi. Sungguhpun demikian, emosi dapat dibangun melalui: