in

Ngopi Pagi Bareng Kadisdikbud KKR

Ngopi Pagi Bareng Kadisdikbud KKR

Oleh: Khairul Fuad

Pagi itu (22/08/2020) tidak berjauhan dengan Sungai Jawi, parit yang masih tersisa di Pontianak, bertandang ke kediaman Bapak Muhammad Ayub. Setelah berkesempatan melihat-lihat kolam budi-daya Udang Lobster Air Tawar yang cukup menjanjikan hasilnya, tepat di sebelah kediamannya, mengambil tempat di teras kediaman untuk bersantai sambil menyeruput secangkir kopi hangat dan hidangan yang disajikan.

Dengan serbasantai sambil diselingi lalu-lalang orang, baik berjalan kaki maupun berkendara sekadar jalan maupun berjualan, tetap ngobrol dengan menyeruput kopi dan hidangan yang disajikan. Ditambah, cuaca cerah menaungi, seperti ikut mengantari berdua melempar tanya membalas jawab sekaligus bak pencahayaan (lighting) sempurna jika diqiyaskan dalam sebuah studio yang kedap suara.

Obrolan ini memang ada kaitan masuknya Bapak Muhammad Ayub di jajaran “kabinet” Bupati Kabupaten Kubu Raya (KKR) Muda Mahendrawan yang beberapa tahun sebelumnya pernah menjabat pada posisi yang sama. Pada kesempatan kepemerintahannya kali ini diminta untuk mengatur tata-kelola pendidikan dan kebudayaan di KKR. Pada 14 Agustus 2020 Bapak Muhammad Ayub dilantik sebagai Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayan (Kadisdikbud) KKR di kantor bupati KKR Jalan Supadio Sungai Raya.

Ketika melempar tanya, “kebiasaan apa yang dulu adalah ketidaksadaran menjadi kesadaran kini yang sepertinya menghantarkan ke kursi orang nomor satu Disdikbud KKR”. Membalas jawabnya dengan mengingat masa lalunya yang dilalui, sepertinya saat di Gertak Kuning dekat bandara Supadio kini. Pak Ayub, begitu panggilan akrabnya, seperti tengah melancarkan perspektif dalam ranah sejarah.

Karakter atau pendidkan karakter sepertinya menjadi pintu masuk untuk kemudian menghantarkan kata kuncinya, yaitu bekerja maksimal, melakukan ikhlas, dan meningkatkan kemampuan diri (self competence updating). Kata kunci ini yang sepertinya menjadi kompas mengarahkan kemudian ke tampuk puncak kursi Disdikbud KKR. Selain itu, juga menjadi bekal asasi mengarungi dunia kepegawaian negeri selama 32 tahun.

Pada gilirannya, terlontar perspektif Pak Ayub dalam dunia pendidikan yang terkait erat dengan membangun manusia. Pembangunan manusia bermakna pendalaman (internalisasi) yang secara praksis melalui proses. Tidak hanya mengajar memberikan ilmu dan besok mendapat gaji, tetapi perlu mencerna terlebih dahulu apa yang nanti akan diberikan kepada anak didik terkait dengan pembangunan manusia.

Proses internalisasi materi ajar tersebut memudahkan transformasi penanaman pola pikir dan karakter kepada anak didik. Transformasi pendidikan tersebut akan memberi kekuatan ingatan apa yang diajarkan kepada guru-guru mereka.sebagaimana ingatan sekarang ini kepada para guru masa dulu yang pernah mendidik. Pak Ayub tampaknya memandang bahwa transformasi pendidikan tidak sekadar ranah tatap muka, tetapi ruang tatap hati demi membangun karakter.

Kenangnya, ingatan kepada guru-guru masa lalu terpumpun pada penanaman karakter, sikap, dan konsep pola pikir. Sikap mental itu membekas dan berpengaruh besar dalam bersikap pada saat ini. Justru kenangan itu tidak semata kepada pemberian nilai tinggi, mengajarkan menulis tegak bersambung. Oleh karena itu, ruang tatap hati berdampak panjang (long life) bagi seorang murid kelak ketimbang ranah tatap muka yang bersifat sementara.

Menarik dalam ungkapan perspektif pendidikan Pak Ayub terdapat penyebutan istilah menulis tegak bersambung, istilah yang bisa jadi sudah kurang akrab dalam pendidikan era sekarang ini. Dapat dimaklumi karena metode ini sudah tergeser oleh keberadaan perangkat elektronik yang memudahkan untuk menulis, seperti komputer jinjing (laptop). Sementara itu, menulis tegak bersambung berdampak sensor motorik kasar dan halus pada anak didik.

Kemudian, Pak Ayub mengungkapkan prinsip yang diambil selama ini setelah ungkap pendidikan masa lalu. Kemungkinan besar prinsipnya terdapat pengaruh dari metode ajar para guru di masa lalu. “Hidup tidak apa adanya, tetapi apa adanya”, ungkap Pak Ayub, berlanjut kepada apa yang selama ini dialami sebagai pribadi berprinsip, yaitu dengan prinsip keterbukaan dan keadilan. Menariknya, prinsip itu dijalani dengan membangun komunikasi yang baik.

Komunikasi yang baik menjadi pola timbal balik interaksi sosial, secara sosial tetap terjaga harmonisasi meski tengah terjadi ketegangan, seperti halnya konsep manajemen konflik. Secara individual, sebagai kontrol diri agar tetap dan mudah kembali pada koridor semestinya sesuai fungsi yang dijalani. Gaya komunikasi seperti ini menjadikan Pak Ayub untuk tidak malu bertanya sekalipun dengan orang di bawahnya, demi menyelesaikan apa yang dialami.

Tak pelak, Pak Ayub menceritakan saat mengikuti tes seleksi kepala dinas di lingkungan KKR. Terdapat kuesioner, “apa faktor kekuatanmu sehingga mengikuti seleksi ini”, dijawabnya, “saya tidak malu bertanya”. Kekuatan ini yang dialami dan dirasakannya sehingga sampai dapat keliling di enam Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) eselon empat, di antaranya perhubungan, kominfo, pelayanan terpadu, dan pariwisata. Karena kekuatan itu, kominfo jauh dari dunia pendidikan dapat dijalani dengan baik. Tidak malu bertanya, belajar, dan segera mempelajari.

Ngopi pagi semakin hangat sampai jatuh pada obrolan tentang tradisi Melayu terkait dengan pendidikan. Menurut Pak Ayub, orang zaman dulu mendidik melalui petuah-petuah, salah satunya adalah tutur bahasa kepada orang yang lebih tua. “Jangan sampai menjawab oi oi ketika dipanggil orang tua kecuali dengan sebaya”, tukasnya. Karakter semacam itu yang mengantarkan sampai sekarang dengan prinsip yang dibangun dari tradisi yang melekat selama ini.

Tak kalah penting, tunjuk ajar masa lalu yang bermanfaat sampai sekarang, yang disebut oleh Pak Ayub adalah pendidikan kewirausahaan, mental kerja. “Ke ladang ke sawah, noreh getah, kalau musim hujan atau saat libur pergi ke hutan cari jamur cendawan, cari pakis, merupakan pelajaran untuk daya juang”, tegasnya sambil mengenang masa lalu. Tradisi masa lalu terkandung kisi-kisi pelajaran yang bermanfaat di kemudian hari.

“Dari kecil dari SD sampai SPG jualan, habis Subuh keliling kampung pulang ganti baju ke sekolah masih jualan bawa es” kenangnya sambil mengembangkan senyumnya. Pelajaran semacam ini yang sudah tertinggal di era sekarang ini, teman-temannya dulu tidak merasa risau untuk menjadi apa karena sudah memiliki daya juang dari pelajaran masa lalu untuk mengerjakan apa, begitu tukasnya penuh argumentatif.

Perlahan-perlahan obrolan sampai menyentuh era digital yang sering disebut era milineal yang memang harus dilalui oleh warga sekolah. Tegasnya, semua aktivis pendidikan, termasuk guru, kepala sekolah, pemerhati pendidikan harus menghadapi arus globalisai atau era milineal itu. Dengan cara bagaimana arus yang bermanfaat ditampung demi daya dukung pendidikan dan pembangunan karakter, sedangkan arus sebaliknya biarkan saja mengalir sebab tiada daya dukung.
Arus milineal menjadi bagian penting sebab kontekstual dan tantangan sekarang ini dengan mencontahkan. Konteks dulu apa yang dilakukan guru dibenarkan oleh orang tua, maksud dalam hal ini para aktivis pendidikan, seperti guru jangan sampai menghilangkan alasan menjadi guru di era glabalisasi era milineal ini sebagai upaya updating diri. Bekerja di dunia pendidikan tidak terlepas dari nilai moral, berhitung dapat diajarkan sebentar selesai, tetapi pendidikan karakter tidak demikian perlu proses timbal-balik, tanggapannya terhadap kontekstual milineal.

Saat dihadapkan kalau ingin belajar cukup lewat piranti lunak pencari kata, guru dipastikan kalah, tetapi belajar karakter harus melalui guru. Balasannya bahwa guru itu disebut profesi profesional artinya pekerjaan itu tidak bisa digantikan dengan orang lain karena bukan ahlinya. Sekadar mengajar mentransfer ilmu dirasa semua orang bisa melakukan, tetapi jiwa guru yang harus melekat sepanjang hidup, baik ditanamkan untuk anak didik maupun lingkungan, yang tidak dimiliki semua orang agar yang diajarkan melekat tertanam dalam. Oleh karena itu, jika yang ditanam dikerjakan oleh anak didiknya nanti, guru akan mendapat pahala jariah buah dari ajarnya.

Semakin larut siang terasa panas karena pencahayaan semakin berkilau dan kopi, termasuk kudapan sudah berkurang dari awalnya sebagai pertanda menyudahi obrolan dengan Bapak Muhammad Ayub. Ide pemikiran terkait pendidikan karakter sepanjang hidup berpijak tradisi seperti kerangka yang tersaring dengan tetap kontekstual. Dengan harapan, sukses pribadi dapat teraih selama mengemban Kadisdikbud KKR dalam pemerintahan Bupati Muda Mahendrawan dan sukses sosial dengan tetap menjaga asa pendidikan dan kebudayaan dari hulu sampai hilir demi Kubu Raya Menanjak.

Sudut Rumah 071020

Written by teraju.id

donasi millenial

Jutawan Milenial yang Dominasi Lelang Amal…

sunset di pulau

Tampar