Oleh Masri Sarep Putra
ngopi sembari ngo pi (ngolah pikir) 31:
Emosi. Kita tentu akrab dengan kata ini. Bahkan, tiap saat mengalaminya. Namun, tidak semua dari kita mafhum apa yang memicu dan bagaimana emosi bekerja.
Bagaimana sesungguhnya emosi bekerja?
Dari perspektif keilmuan, jawaban atas pertanyaan ini masih belum final. Namun, riset dari berbagai dekade terakhir menunjukkan fenomena yang semakin jelas tentang emosi.
Dalam buku “Deeper Than Reason: Emotion and Its Role in Literature, Music, and Art” (2005) misalnya, Jenefer Robinson menggali lebih dalam lagi berbagai teori mengenai emosi yang berkaitan dengan temuan-temuan psikologi dan neurologi yang kiranya dapat membantu kita menjawab pertanyaan dan menawarkan model untuk memahami dan menjelaskan emosi.
Model dasar Robinson, dengan menambahkan hasil riset dan analisis dari berbagai sumber, memberikan sumbangan yang sangat bernilai untuk memahami emosi. Menurut Robinson, emosi mulai dengan reaksi usus yang kemudian merangsang sesuatu (emotions start with a gut reaction to something).
Emosi mendorong ekspresi wajah, membentuk gagasan, kesimpulan, atau sesuatu yang berubah pada diri kita. Ia menyebut reaksi-reaksi itu sebagai “non-cognitive appraisals” yang kita namakan sebagai reaksi usus (gut reaction). Reaksi itu terjadi secara automatis.
