in

Panen “Agronomi” Setahun Pandemi

hasil kebun

Oleh: Nur Iskandar

Awal Maret 2020 kami Rakernas Binabud di Hotel Century, Jakarta. Rakernas ditutup sehari lebih dini karena meruyaknya Covid-19 di ibukota. Seminggu setelah kembali di Kota Pontianak, Jakarta Lockdown.

Hantu Covid-19 melanda nusantara dan seantero dunia. Kerja pun dianjurkan dari rumah. Work From Home. Saya dan keluarga isolasi mandiri, sebab baru pulang dari zona merah. 14 hari isolasi mandiri, Alhamdulillah sehat. Begitupun pengurus Binabud Chapter Pontianak Kalimantan Barat. Termasuk kedataangan siswa Youth Exchange and Study (YES) dari AS. Juga siswa Jepang dan Italia yang hosting di Pontianak dikirim balik ke negaranya masing masing dengan sehat walafiat.
Saya mengisi waktu dengan bertani. Berjemur dengan tanam pisang dan pepaya.

hasil kebun.2

Lumayan pisang 30 pohon. Pepaya ditumpangsarikan. Petai? 150 pohon. Pinang? 200 pohon. Tanam sendiri. Setiap pagi.

Sekarang setahun Covid-19 melanda dunia. Work From Home lebih menemukan jati dirinya. Arahnya bijaksana 3M. Masker. Mencuci tangan. Menjaga jarak. Aman. Imun. Insyaallah Aman.

Sehat? Alhamdulillah sehat. Kuat? Puji Tuhan kuat. Hasil? Syukur tiada terperi. Setiap kebaikan berbuah kebaikan.

Baca Juga:  Sunrise Teluk Batam

Saya sudah panen daun pisang dan pucuk pepaya berkali-kali. Seminggu terakhir ini panen dua tandan pisang. Sisi agronomi yang menarik sekali. Sebab di setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Agronomi rupanya obat hebat dari pandemi.

Selain pisang dan pepaya adalah keladi naik aksi. Allah angkat derajatnya tinggi tinggi karena pandemi. Ada keladi hutan yang tidak ditoleh masa lalu, kini eksotis di teras depan rumah. Dia dikasih pot putih dan para para pula. Ada keladi hutan selembar daunnya rp 200.000. serumpun bisa jutaan.

hasil kebun.1

Dari sini saya terenyuh dalam dalam. Lahan NKRI luas. Jika saja negeri agraris ini bagus planningnya, makmur rakyatnya. Jika drainase bagus. BPN tidak mempersulit petani mengurusi lahan taninya. Bank tak menjerat dengan bunga tinggi dan pialang tidak bodohkan petani dengan ekspansi properti. Makmur. Belum cerita tenaga kerja terserap. Belum kisah home industri dan sentuhan ekonomi kreatif cum vokasional.

Negeri ini gudang harta. Tak perlu ngutang. Juga tak perlu berkelahi. Tak perlu hujat dan caci maki. Agronomi kita bangunlah di masa pandemi. Setahun terbukti. Makin bersatu, makin menjadi jadi model begini. Tul tak brow? *

Baca Juga:  Tanam Saja

Written by Nur Iskandar

Hobi menulis tumbuh amat subur ketika masuk Universitas Tanjungpura. Sejak 1992-1999 terlibat aktif di pers kampus. Di masa ini pula sempat mengenyam amanah sebagai Ketua Lembaga Pers Mahasiswa Islam (Lapmi) HMI Cabang Pontianak, Wapimred Tabloid Mahasiswa Mimbar Untan dan Presidium Wilayah Kalimantan PPMI (Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia). Karir di bidang jurnalistik dimulai di Radio Volare (1997-2001), Harian Equator (1999-2006), Harian Borneo Tribune dan hingga sekarang di teraju.id.

club menulis iain pontiaanak

Pusara Club Menulis IAIN Pontianak

jalan rusak kebun sawit

Sawit dan Jalan Kampung Kami