Meski reaksi usus itu muncul secara otomatis dan tiba-tiba, hal itu dapat masuk jalur jalan menanjak sebagai reaksi atas pemikiran. Misalnya, kita sudah menghabiskan banyak waktu dan investasi untuk suatu usaha. Tiba-tiba, kita kehilangan aset karena dicurangi karyawan. Kita mengalami reaksi usus, yang membuat kita selanjutnya merasa kapok dan selalu curiga pada hal yang serupa. Takut kalau-kalau kejadian masa lampau terulang lagi. Emosi pada aras bawah dapat masuk jalan menanjak.
Oleh karena itu, emosi adalah sebuah proses, bukan sesuatu yang tidak berubah-ubah. Namun, manakala mengalami reaksi usus, bukan berarti bahwa kita terjebak dalam lingkaran setan emosi. Sungguhpun demikian, emosi dapat dibangun melalui:
• Kimiawi tubuh (body chemistry). Emosi akan memacu reaksi fisiologis melalui kimiawi layaknya dopamin (diasosiasikan dengan pleasure), adrenaline (diasosiasikan dengan ketakutan dan kemarahan), seratonin (diasosiasikan dengan ketenangan), oxytocin (diasosiasikan dengan rasa cinta), cortisol (diasosiasikan dengan stres), dan seterusnya. Kimiawi itu demikian banyaknya yang hendak dilakukannya untuk menciptakan perasaan emosi fisiologis. Semuanya ini saling berlomba untuk mempertahankan emosi apa saja yang ada dalam diri kita.
