• Pikiran (kognisi). Sekali kita mulai dengan emosi tertentu, kita akan berpikir mengenai hal itu dan memonitor sekeliling. Misalnya, kita mungkin melihat kilatan lampu biru yang otomatis memberikan rangsangan rasa cemas, jangan-jangan itu adalah mobil polisi.
• Bahasa tubuh (body language). Jelaslah bagi kita bahwa kebahagiaan membuat orang tersenyum, sedangkan depresi membuat dahi kita mengkerut dan manyun. Yang menagumkan ialah bahwa ekspresi, postur, dan mungkin nada suara dapat merangsang kimiawi tubuh yang berhubungan dengan rangsangan emosi. Senyum dapat membuat kita merasa bahagia, sedangkan duduk tegak dapat membantu kita merasa awas dan positif.
• Siap bereaksi (being ready for action). Sudah jamak diketahui bahwa emosi kita cenderung menyiapkan bagaimana tubuh kita bereaksi. Memerhatikan sesuatu dengan saksama atau untuk sigap bergerak dengan cepat. Emosi akan membuat tubuh kita siap bereaksi, bahkan sebelum kita dapat merencanakan bagaimana harus bertindak.
Cita rasa emosi kerap muncul dalam bentuk kaget, kekaguman, euforia, kejengkelan, benci, sayang, kebosanan (ennui), kemarahan (fury), dan sebagainya. Negatifkah semuanya itu? Ataukah justru merupakan potensi yang jika dikelola merupakan kekuatan?
