“Tak apa, Pak. Syukur semua diberi kelancaran. Tiga hari yang lalu saya sempat ragu karena tiba-tiba muncul aturan semua penerbangan menuju Jawa mengharuskan disertai hasil PCR yang negatif paling lama dua hari sebelum keberangkatan. Syukurlah rumah sakit sudah memulai dengan tes itu, kalau tidak harus tunggu 4-5 hari karena harus dikirim ke Jakarta. Dan, tak dapat dipakai. Kadalu warsa” Ucapnya.

“Ibu juga berpikir seperti itu, Mas” Timpal nyonya rumah, Bu Pringgo.

“Pertengahan Oktober lalu, Bapak lupa tanggalnya, ada utusan dari rumah sakit yang terakhir merawat Wie-Wie. Utusan itu menyerahkan HP Wie-Wie” Pak Pringgo ambil napas sejenak.

“Katanya, di dalam HP ini ada catatan harian, berupa rekaman suara, selama ia dirawat. Bapak dan Ibu sudah membukanya. Ada pesan untuk Nak Frans. Malam ini, Bapak ingin, kita semua mendengarkan rekaman itu, persis di malam Natal ini”

“Ketika berangkat, Januari lalu, ia berkata ke Ibu, Natal lalu Wie sendirian di rumah. Tidak ‘dhing’!. Mas Frans dan kawannya ke sini. Wie ingin natal tahun ini kita berkumpul bersama di sini. Timpal Bu Pringgo lagi.

“Setahun yang lalu, jam segini, Ibu dan Bapak persis di Vatikan. Masih tengah hari tanggal 24 di sana” Lanjut Bu Pringgo.

Mereka berlima, Pak Pringgo, Bu Pringgo, dokter Frans, Man dan Min, mengelilingi HP walau tetap menjaga jarak. Syukurlah Man punya inisiatif memasang pengeras suara. Sehingga, rekaman suara Wie manjadi lebih terdengar jelas.

‘Ini hari pertama,

Aku masuk karantina setelah hasil PCR kemarin diketahui positif. Hasil cepat diketahui. Perangkat PCR bantuan pusat sudah datang.