Kamar yang aku tempati baru. Bau catnya membuat aku agak batuk. Rumah ini, entah bangunan apa. Banyak kamar.

Sepi sekali.

Keperluan makan-minum dikirim langsung dari bagian gizi. Tiga kali, dari pagi tadi. Ditambah obat dan madu. Ada kawan yang juga mengirim parcel buah.

Sesunggahnya buah tentu enak, ada kiwi, ada anggur, ada apel. Tetapi sungguh tak ada selera. Aku makan hanya untuk menjaga kekuatan tubuh.
Bapak dan Ibu, kirimi doa, ya. Jangan sedih. Wie masih kuat.

Aku ingin tidur awal. Sudah dua minggu aku was-was. Ternyata terwujud.


Ini hari kedua.

Pukul sepuluh pagi. Aku terus-menerus batuk. Tidak berdahak.
Dada terasa sesak, berat. Mau melangkah saja terasa sangat berat.

Tuhan. Tolong beri kekuatan.

Pukul tiga sore. Baru saja ada perawat yang datang membawa oksimeter. Hasilnya 90. Aku harus masuk kmar isolasi. Sore ini juga. Aduh! Mata berkunang-kunang, Bu. Gelap.

Ini hari ketiga.
Atau, hari pertama di kamar isolasi.

Semua perawat dan nakes lain memakai APD. Hasil CT scann sudah enam puluh persen paru penuh asap. Virus telah menyerang. Perlu dipasang alat bantu pernapasan.

Napasku terasa berat. Seperti ber-ton-ton. Juga, tak makan. Tak ada petugas yang membantu menyuapi.

Ini hari keempat.

Mungkin, Tuhan telah dekat menjemputku. Aku pamit untuk semuanya.

Hati-hati dengan wabah ini. Sangat ganas.

Rasanya aku tak mungkin pulang Natal tahun ini. Selamat tinggal Pak, Bu, Man, Min, mas Frans. Kalian sedang berkumpul di malam ini kan?

Min, adikku tersayang, tolong putarkan lagu I’ll be homenya Connie Francis.

Kau tahu tempat kakak menyimpan, kan? Kalian jangan sedih.