Tak salah mereka menjuluki jalan antara TR 9 hingga TR 11 sebagai jalan bejoget. Karena memang ban motor akan bejoget kesana kemari jika tuas gas ditarik. Geal-geol bannya. Sekarang, setelah jembatan jadi, Mbak Tafiq yang menggoda kami.
“Oalah rek…gaya men yo, wes lewat dalan apik”, pekik Mbak Tafiq saat melihat kami mutar lewat depan rumahnya menuju jembatan baru.
Iya, setelah jembatan baru jadi, seakan beban 50 kg diangkat dari pundak kami. Dulu, setiap habis hujan, rasanya berat sekali mau pergi ke kantor.
Berpikir keras bagaimana caranya lewat jalan becek. Bekerja keras, berusaha agar selamat sampai tujuan, tidak terjadi tragedi saat lewat jalan yang super licin.
Saya juga tak harus menitipkan motor di rumah Pak Santoso jika hujan turun.
Selamajembatan belum jadi dulu, sepulang kerja, motor saya titipkan di rumah beliau yang posisinya tak jauh dari jalan utama menuju Kubu. Di Teluk Nangka TR 9. Saya beruntung bertemu teman-teman kantor yang nice.
Jembatan yang sudah sejak awal pertama kami datang mulai dibongkar. Sekarang sudah menjadi jembatan yang kokoh dan lapang. Semoga ini menjadi isyarat lapangnya jalan kami menuju masa mendatang. Amin. (*)
