“Cukup ke daan duitnye?”

“Cukup,” jawabku sambil menunjukan uang yang kugenggam.

“Malli baras jak, laok usah. Umak Bang Long orang paling ngerati yewee,” ujar Bang Long lagi.

Berbicara tentang ibu, aku teringat ini ibuku menelponku sambil berleter tanpa sempat mengucap salam. Salahku memang, ketika itu aku tidak memunyai pulsa untuk membalas pesannya. Lagi pula ia hanya bilang seperti biasa bulan ini belum bisa mengirim uang. Lalu besoknya beliau mengirim pesan lagi.

“Ape kabar Jah, balik ke daan taon baru tok?”. Ingin sekali aku membalasnya apa daya pulsa tak cukup, lalu kukirim pesan lewat Facebook ke adikku, untuk bilang kepada ibu bahwa aku baik-baik saja, tidak pulang tahun baru, dan tak punya pulsa untuk membalas pesannya. Pesanku terkirim, adikku juga membalas “Ok”.

Besoknya lagi, selesai salat Magrib handphoneku berdering, ternyata ibuku yang menelponku. Aku tak segera menjawabnya karena biasanya, beliau hanya memberikan kode untuk ditelpon. Bagaimana untuk menelpon, untuk membalas pesannya saja aku tak mampu. 2 menit kemudian handphoneku berbunyi lagi, dengan tulisan Mymom memanggil di layarnya. Kali ini segera kuangkat.

“Kau ngape we Jah, sibuk inyan keratinye nak balas sms urangtue pun daan sampat,” leter ibuku.

Aku sangat terkejut, karena biasanya beliau mengucapkan salam tapi kali ini ia langsung berleter seakan-akan aku hadir di depannya. Hah, leteran ibu aku sangat merindukannya, kubiarkan saja ia berleter hingga lelah. 3 menit mungkin ia berleter entah apa yang dileterkannya aku tak terlalu mendengarkan, yang pastinya beliau beleter mengungkit masa yang akan datang bagaimana sikapku, begini saja aku tak memberi kabar darinya.