Oleh: Noranisti, Club Menulis
Pertama masuk keruangan Balai Kerja Melayu dalam rangka mengikuti kegiatan “ Gawai Bahasa Ibu” sempena Hari Bahasa Ibu Internasional yang diselenggarakan Indonesia Melestarikan Bahasa Ibu ( ILBI ), wajah yang kulihat untuk pertama kali ialah wajah seorang ibu dengan kerudung berwarna hijau toska. Sosok yang memang tidak lagi muda, namun juga tidak terlalu sepuh.
Awalnya aku berpikir bahwa seorang ibu yang kulihat untuk pertama kali itu merupakan salah satu dari beberapa narasumber yang hadir untuk menyampaikan materi berkenaan dengan Bahasa Ibu yang ada di Pontianak khususnya. Selain karena beliau yang terlihat lebih sepuh dari teman-teman Club Menulis IAIN Pontianak yang duduk disampingnya, beliau juga terlihat sangat berwibawa.
Akan tetapi apa yang aku pikirkan tentang beliau ternyata salah. Sosok ibu yang kuanggap salah satu dari narasumber, bukan termasuk dari salah satu dari beberapa narasumber yang hadir untuk menyampaikan materi, melainkan termasuk dari salah satu peserta yang hadir. Aku mengetahui hal tersebut ialah pada saat beliau memperkenalkan diri kepada seluruh yang hadir, pada saat sesi tanya jawab.
