Semakin kokoh fondasi yang kita bangun, maka akan semakin kokoh pula pilar-pilar peradaban yang akan kita tegakkan di atasnya.
Sulit!
Betul! Kalau kita melakukannya sendiri.
Tak mudah!
Betul! Jika kita membangunnya tanpa berjamaah.
Maka jangan bekerja sendiri, tapi bekerjalah secara berjamaah.
Berjamaah itu adalah kerja bersama secara terpimpin. Pemimpinnya diputuskan lewat kesepakatan. Persis seperti dalam penyelenggaraan shalat berjamaah.
Ketika kita telah memutuskan siapa yang menjadi imam, maka yang jadi makmum harus ikut dengan apa yang diaba-abakan oleh imam/ pemimpinnya. Disuruh takbir, takbir! Disuruh rukuk, rukuk! Disuruh sujud, sujud!
Tak boleh melawan! Apalagi menentang!
Lalu makmumnya harus percaya dengan imamnya, percaya bahwa sang imam bisa memberikan aba-aba dan tidak akan memberikan aba-aba yang salah dan menyesatkan. Dengarkan aba-aba sang imam, dan taatlah dengan aba-aba yang diserukan.
Kalau imamnya melakukan kesalahan kecil, tak usah disalah-salahkan. Cukup dikasih tau saja.
Kalau imamnya melakukan kesalahan besar lalu batal, makmum yang paling depan harus siap untuk menggantikan.
Ga perlu ribut-ribut. Ga perlu rebut-rebut. Shantai ajjah.
Sesederhana itulah ummat muslim membangun peradaban dunia. Selama ribuan tahun lamanya. Mulai dari Madinah 1400 tahun yang lalu hingga di berbagai pelosok nusantara yang jaraknya puluhan ribu kilometer jauhnya.
Ga ribet ga njelimet seperti cara-cara orang barat mengajarkan kita membangun peradaban seratus tahun belakangan. Pemilu lah, pilpreslah, pilkada lah. Trias politikalah, protokol kesehatanlah. Entah apa entah lagi di kemudian hari.
Maka kembalilah ke Masjid. Karena majid itu kata Gurunda Ustaz Luqmanulhakim adalah BAYT-TULLAH. BAYT itu artinya tempat kembali. Kembali kepada Allah Sang Maha Pencipta, kembali kepada manusia dan kemanusiaan.
