in

MASJID yang DIRINDUKAN

ust luqman

By Kang Ustadz Rendy Saputra

Ini foto kiyai Luqmanulhakim Ashabul Yamin, Pengasuh Masjid Munzalan Mubarakan. Pontianak. Kali-kali aja belum kenal. He he he.

Ini foto didepan masjid Munzalan. Ada Pertamini. Hihihi, belum jadi pertamakro. Masih mini.

Ini adalah pom bensin mini yang di install didepan masjid.

Visi pertama adalah untuk memfasilitasi beli bensin santri penerima amanah. Karena masjid ini pemasukan ziswafnya hampir mau 10M per bulan, maka santri penerima amanahnya ada 300 lebih. Itu santri yang dedikasi bekerja di Masjid, office hour.

Belum lagi relawan yang ada. Jadi market pembelian bahan bakar bensin di take over sama masjid. Terutama motor. Ini patut dicontoh. Menjaga arus uang agar tetap berputar di ekosistem kaum muslimin.

Visi berikutnya adalah sebagai program #MustahilMogok.

Seperti yang kuta tahu, segmen pekerja ojeg online adalah segmen yang cukup terdera kesulitan. Tarif per KM tertekan terus, syukur2 ada tips, di masa covid ini malah banyak layanan yang off.

Maka masjid menyediakan BENSIN GRATIS untuk jamaah masjid. Dengan syarat tertentu. Saya belum update lagi nanti programnya seperti apa, tapi nampak bersyarat seperti mendapatkan beras.

Di Masjid Munzalan ada bagi-bagi beras gratis, tapi ngaji dulu 1,5 jam. Di pandu oleh mentor BTQ.

Kemungkinan ini nanti juga begitu, misal ngaji 2 lembar bagi yang sudah lancar, dapat voucher pertalite 1 liter. MasyaAllah.

Atau bagi yang belum bisa ngaji, baca IQRO 2 halaman, gratis voucher bensin 1 liter. Kalo mau nambah lagi, ngaji lagi.

Masjid tinggal sediakan ustadz piket yang mengajarkan Al Quran. Seru gak?

*

Begitulah kita harusnya hari ini berdakwah, gak semua lapis segmen masyarakat kita ini bisa menerima dakwah hanya dengan narasi. Tidak semua insyafnya itu karena murni berfikir mendalam.

Ada saudara kita yang memang perlu disentuh hatinya, dibaikin, dikasih hadiah dulu, disenangkan dulu, baru mau ber Islam.

Itulah mengapa arus meledaknya orang masuk Islam di zaman Rasulullah shallallahu’alaihiwasalam, terjadi pada fase setelah Fathu Mekkah. Karena setelah itu Islam mengalami kemenangan, sumber daya banyak, masuk Islam itu enak.

Sebelum nya ya ada yang masuk Islam, di masa sulit, di masa embargo, tetapi tidak banyak, bahkan 13 tahun di Mekkah, kaum muslimin jumlahnya sekitaran 500 orang saja, berbeda dengan jumlah haji wada yang berjumlah 120 ribu sahabat.

Itulah mengapa, jangan anti sama program memberi hadiah, memberi hak zakat, memberi sedekah. Arahannya ada. Hadistnya lengkap. Di Quran jelas.

Kasih makan sesama, perhatikan anak yatim, sediakan bantuan untuk yang sulit. Kenapa sekarang kita anti betul bagi-bagi sesuatu ke sesama.

Orang ke masjid karena bensin, ya gak papa. Ngaji karena bensin, ya gak papa. Sulit kita berharap hatinya ikhlash di tahapan pertama, ya kenal huruf Quran aja nggak. Ma’rifat ke Allah aja nggak, denger ta’lim aja nggak, kok kita ngarep dia sholih ikhlash di pertemuan pertama, ya mikir lah harusnya!

Biarlah ummat datang ke masjid karena bensin dulu. Biarin aja. Gak papa.

Tapi lama kelamaan hatinya dibina, dikenalkan Allah, dikenalkan shalat, dikenalkan makna ikhlash. Lama-lama insyAllah beliau ikhlash juga. Tetap ngaji, tetap dapat bensin. Tapi hatinya sudah gak ke bensin.

Baca Juga:  Jembatan Sambas Besar

Berkah Box juga sama. Kami pokoknya sediakan nasi box di masjid-masjid. Agar yang butuh makan ke masjid. Agar yang lapar bisa datang ke masjid, gak perlu minta-minta, sudah ada makanannya.

Maka ayat Allah akan hidup, begitu dia lapar, dia ingat masjid, dia ingat Allah.

Masjid gak cuma menarasikan ayat “Tho’amul miskin”, tapi juga ngasih makan beneran, maka ayat jadi hidup, Al Quran jadi hidup, hati jadi lebih mudah menerima hidayah.

*

Mindset kita dalam membangun ummat ini harus kita perbaiki. Kita anti ngasih beras, kita anti memperhatikan ummat, kita anti merawat ummat, kita gak mau investasi duit ke ummat.

Terus tiba-tiba komunis yang ngasih beras kita bingung, komunis yang merawat orang kecil kita murka, komunis yang dapat dukungan kita meradang.

Ya wajar aja kalo ummat senengnya dukung komunis atheis tak bertuhan, wong mereka yang ngasih makan, yang memperhatikan layanan kesehatannya, yang memperhatikan kebutuhannya.

Berceramah di podium ya tetap harus. Ta’lim membangun pemahaman ummat ya harus, tapi kalo ummat ini perutnya gak dijaga, ya jebol juga aqidahnya.

Begitu ya, jangan banyak berdebat lagi tentang program bantu orang miskin. Lakukan. Ummat sudah menunggu Masjid datang ke kehidupan mereka, beneran. Let Masjid Come to The People.

URS – Berkah Box Indonesia
Donasi WA • 0811 • 216 • 8676 •

By Kang Ustadz Rendy Saputra

Ini foto kiyai Luqmanulhakim Ashabul Yamin, Pengasuh Masjid Munzalan Mubarakan. Pontianak. Kali-kali aja belum kenal. He he he.

Ini foto didepan masjid Munzalan. Ada Pertamini. Hihihi, belum jadi pertamakro. Masih mini.

Ini adalah pom bensin mini yang di install didepan masjid.

Visi pertama adalah untuk memfasilitasi beli bensin santri penerima amanah. Karena masjid ini pemasukan ziswafnya hampir mau 10M per bulan, maka santri penerima amanahnya ada 300 lebih. Itu santri yang dedikasi bekerja di Masjid, office hour.

Belum lagi relawan yang ada. Jadi market pembelian bahan bakar bensin di take over sama masjid. Terutama motor. Ini patut dicontoh. Menjaga arus uang agar tetap berputar di ekosistem kaum muslimin.

Visi berikutnya adalah sebagai program #MustahilMogok.

Seperti yang kuta tahu, segmen pekerja ojeg online adalah segmen yang cukup terdera kesulitan. Tarif per KM tertekan terus, syukur2 ada tips, di masa covid ini malah banyak layanan yang off.

Maka masjid menyediakan BENSIN GRATIS untuk jamaah masjid. Dengan syarat tertentu. Saya belum update lagi nanti programnya seperti apa, tapi nampak bersyarat seperti mendapatkan beras.

Di Masjid Munzalan ada bagi-bagi beras gratis, tapi ngaji dulu 1,5 jam. Di pandu oleh mentor BTQ.

Kemungkinan ini nanti juga begitu, misal ngaji 2 lembar bagi yang sudah lancar, dapat voucher pertalite 1 liter. MasyaAllah.

Atau bagi yang belum bisa ngaji, baca IQRO 2 halaman, gratis voucher bensin 1 liter. Kalo mau nambah lagi, ngaji lagi.

Baca Juga:  Air Sumber Kehidupan (2)

Masjid tinggal sediakan ustadz piket yang mengajarkan Al Quran. Seru gak?

*

Begitulah kita harusnya hari ini berdakwah, gak semua lapis segmen masyarakat kita ini bisa menerima dakwah hanya dengan narasi. Tidak semua insyafnya itu karena murni berfikir mendalam.

Ada saudara kita yang memang perlu disentuh hatinya, dibaikin, dikasih hadiah dulu, disenangkan dulu, baru mau ber Islam.

Itulah mengapa arus meledaknya orang masuk Islam di zaman Rasulullah shallallahu’alaihiwasalam, terjadi pada fase setelah Fathu Mekkah. Karena setelah itu Islam mengalami kemenangan, sumber daya banyak, masuk Islam itu enak.

Sebelum nya ya ada yang masuk Islam, di masa sulit, di masa embargo, tetapi tidak banyak, bahkan 13 tahun di Mekkah, kaum muslimin jumlahnya sekitaran 500 orang saja, berbeda dengan jumlah haji wada yang berjumlah 120 ribu sahabat.

Itulah mengapa, jangan anti sama program memberi hadiah, memberi hak zakat, memberi sedekah. Arahannya ada. Hadistnya lengkap. Di Quran jelas.

Kasih makan sesama, perhatikan anak yatim, sediakan bantuan untuk yang sulit. Kenapa sekarang kita anti betul bagi-bagi sesuatu ke sesama.

Orang ke masjid karena bensin, ya gak papa. Ngaji karena bensin, ya gak papa. Sulit kita berharap hatinya ikhlash di tahapan pertama, ya kenal huruf Quran aja nggak. Ma’rifat ke Allah aja nggak, denger ta’lim aja nggak, kok kita ngarep dia sholih ikhlash di pertemuan pertama, ya mikir lah harusnya!

Biarlah ummat datang ke masjid karena bensin dulu. Biarin aja. Gak papa.

Tapi lama kelamaan hatinya dibina, dikenalkan Allah, dikenalkan shalat, dikenalkan makna ikhlash. Lama-lama insyAllah beliau ikhlash juga. Tetap ngaji, tetap dapat bensin. Tapi hatinya sudah gak ke bensin.

Berkah Box juga sama. Kami pokoknya sediakan nasi box di masjid-masjid. Agar yang butuh makan ke masjid. Agar yang lapar bisa datang ke masjid, gak perlu minta-minta, sudah ada makanannya.

Maka ayat Allah akan hidup, begitu dia lapar, dia ingat masjid, dia ingat Allah.

Masjid gak cuma menarasikan ayat “Tho’amul miskin”, tapi juga ngasih makan beneran, maka ayat jadi hidup, Al Quran jadi hidup, hati jadi lebih mudah menerima hidayah.

*

Mindset kita dalam membangun ummat ini harus kita perbaiki. Kita anti ngasih beras, kita anti memperhatikan ummat, kita anti merawat ummat, kita gak mau investasi duit ke ummat.

Terus tiba-tiba komunis yang ngasih beras kita bingung, komunis yang merawat orang kecil kita murka, komunis yang dapat dukungan kita meradang.

Ya wajar aja kalo ummat senengnya dukung komunis atheis tak bertuhan, wong mereka yang ngasih makan, yang memperhatikan layanan kesehatannya, yang memperhatikan kebutuhannya.

Berceramah di podium ya tetap harus. Ta’lim membangun pemahaman ummat ya harus, tapi kalo ummat ini perutnya gak dijaga, ya jebol juga aqidahnya.

Begitu ya, jangan banyak berdebat lagi tentang program bantu orang miskin. Lakukan. Ummat sudah menunggu Masjid datang ke kehidupan mereka, beneran. Let Masjid Come to The People.

URS – Berkah Box Indonesia
Donasi WA • 0811 • 216 • 8676 •

Written by teraju.id

IMG 20201030 073353 451

Balai Bahasa Umumkan Hasil Lomba Blog

Undangan khusus Very Furdaus Yaser Nuris Anshari Dimyati dan Sany Alkadrie. Foto dok panpel Fena khaTULIStiwa 2020.

Seperempat Abad Arwana