Fakta memang, dahulu dusun Teluk Air jauh berbeda dari kondisinya yang terlihat saat ini. Dusun Teluk Air pernah menjadi “Kota Metropolitan” di Kecamatan Batu Ampar. Metropolitan berarti bentuk kota yang penuh aktivitas, padat penduduk, kota sebagai pusat transaksi perdagangan dan cahaya terang setiap sudut pemukiman. Sempat pula berdiri Polsek pertama di Telok Air pada saat itu (jauh sebelum dibangunnya Polsek di Batu Ampar).

Penduduk lebih ramai dibanding dusun Sungai Limau, dusun Batu Ampar Tengah, dusun Mastura dan dusun lainnya. Namun, warga yang tinggal di Teluk Air saat itu sekitar 70 % adalah berstatus sebagai warga pendatang yang tinggal menetap sebagai pekerja buruh pabrik atau somel, dan sisanya sekitar 30 % penduduk asli. Demikian gambaran dusun Teluk Air saat itu hasil penuturan Pak Dol, salah satu warga yang memilih menetap di Teluk Air.

Pada awalnya mata pencarian utama masyarakat dusun Teluk Air sebelum hadirnya pabrik/somel/pete sebagai petani dapur arang. Mata pencarian ini sebenarnya usaha mengelola proses pembuatan arang dapur sebagai bahan pengganti BBM (bahan bakar minyak) untuk memenuhi kebutuhan memasak rumah tangga hingga untuk memenuhi kebutuhan ekspor hingga keluar negeri.