Pekerjaan warga dusun Teluk Air di dapur arang ini pun sebenarnya sangat unik apabila dilihat dari proses pengolahannya. Dikatakan unik karena menggunakan sistem teknologi sederhana dan akurat. Dibangun di atas tanah keliling bangunan berukuran 8-12 meter persegi berbahan dasar tanah liat, batu bata merah, dilengkapi dengan saluran pembuangan asap/uap panas, didesain dengan tungku pembakaran dan sisi pintu sebagai indikator kematangan arang (kesiapan arang untuk dipaket).
Dari segi bentuk terlihat menyerupai bangunan rumah orang Eskimo, Igloo. Hanya saja Igloo berbahan dasar es. Teknologi ini sebenarnya merupakan warisan turun temurun dari datok nenek masyarakat Teluk Air Kecamatan Batu Ampar. Sementara ini, belum ditemukan referensi akurat siapa yang memulai teknologi dapur arang ini, dari mana asal teknologi ini bermula.

Pekerjaan sebagai pekerja dapur arang ini sempat bergeser mulai tahun 1980-an hingga 1990-an karena masyakarat lebih tergiur dengan membangun asrama-asrama, rumah petak kontrakan bagi buruh pabrik/somel/pete dan merobohkan bangunan dapur arang mereka. Jadilah sebagian warga sebagai pemilik kontrakan dan toko-toko sembako/ warung.

Transisi peralihan mata pencarian semula dari petani dapur arang menjadi pengusaha kontrakan bukan pilihan sulit bagi warga saat itu, malah ini diangap sebagai peluang emas. Berduyun-duyun para pendatang berlabuh di tanah pulau Teluk Air dengan harapan baru untuk sukses merubah diri menjadi lebih sejahtera secara ekonomi. Ramai dan penuh hiruk pikuk suara radio dan tape terdengar dari muka rumah sebagai salah satu sarana hiburan malam dari penat bekerja para buruh, sesekali terdengar bercampur dengan selingan suara mesin-mesin pabrik/somel.