Ternyata ada dua buku yang dibedah, buku “Beragama dalam Kebingungan” dan buku karya pak Yusriadi “Ajarkanlah Anakmu Menulis.” Selesai mandi aku bergegas pergi, Apalagi pematerinya adalah mentor sekaligus penginspirasi literasiku selama ini, tidak lain pak Dedy Ari Asfar, semakin bersemangat ku dibuatnya. Pak Dedy karakternya kritis dan sangat mafhum soal tulis menulis. Aku juga mengagumi sosok pak Yusriadi seorang penulis dan dosen di kampus IAIN Pontianak. Walaupun sebenarnya aku sedikit kecewa, belakangan aku menghubungi pak Yusriadi melalui whatsapp dengan maksud meminta endorsement atau penilaian buku karya ku, tetapi tidak ada respon, sekadar dibaca saja. Tak mengapa, aku pikir beliau banyak kesibukan sehingga tak sempat dan atau kelupaan.

Sementara itu, pak Nur Iskandar, aku mengenalnya saat pertama kali mengirim tulisan di teraju.id. Awalnya aku mengira teraju.id adalah milik pak Yusriadi. Belakangan baru kuketahui setelah membaca kolom tentang penulis di bagian bawah di salah satu tulisannya. Kali pertama aku melihat secara langsung sosok seorang Nur Iskandar perawakannya cukup tinggi, lumayan kekar, bermata agak sipit, sepintas terlihat santai dan humoris.
Keberangkatanku menuju lokasi acara kira-kira pukul 09.20 Wib. Sesampainya di lokasi tepat ketika pak Dedy Ary Asfar tampil membedah buku pak Yusriadi “Ajarkanlah Anakmu Menulis.” Aku sudah tak heran lagi dengan pembawaan pak Dedy, diksinya dalam berbicara selalu berdasarkan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar apalah lagi dalam kepenulisan. Seorang penyuluh bahasa ini mempunyai cara berpikir yang berbeda dengan yang lain. Aku pernah membaca tulisan resensinya, kritiknya tajam dan analisanya mendetil.