Oleh: Yusriadi
Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan pergi ke Sungai Tapah, di ujung Mualang, daerah pedalaman Sekadau. Jarak dari Pontianak lk. 500 kilo. Dengan sepeda motor, waktu tempuh yang diperlukan lk. 8 jam.
Melalui jalan yang beraspal, lalu jalan berbatu dan jalan berlumpur, perjalanan dirasakan penuh sensasi. Medan yang sebenarnya berat, namun pemandangan kiri kanan yang menarik –kiri kanan sawit, karet, kampung, hutan muda, sungai yang jernih, dan lain-lain –membuat perjalanan ini mengesankan.
Apalagi kemudian, kami –saya dan Suherman seorang yang menjadi enumerator survei wilayah Sekadau,, disambut dengan hangat dan terbuka. Kepala Dusun setempat, Pak William Guntara, dan istrinya, dengan ramah menjawab keingintahuan saya tentang banyak hal. Saya bertanya ini dan itu, dari satu tema ke tema yang lain, dan beliau tetap sudi menjawabnya.
Sikap ramah dan terbuka juga ditunjukkan warga. Saya rasakan betul keramahan Pak Suryadi, seorang responden yang kebetulan terpilih untuk reinterview. Setelah reinterview selesai, saya mendalami informasi budaya.
Saya menggali informasi seputar kisar lapuk yang terdapat di bagian depan rumah beliau. Alat yang dipakai untuk melepas kulit padi, agar padi jadi beras, tergeletak begitu saja di ruang seperti tempat penyimpanan barang di depan rumah.
Katanya, kisar itu milik mereka. Buatan sendiri.
Alat dari besi untuk membuat “parit” atau jalan beras, masih disimpan. Sempat ditunjukkan besi kecil panjang yang sudah berkarat, tanda lama tak dipakai.
Kisar itu dahulu digunakan untuk menggiling padi. Dalam jumlah banyak padi tidak perlu ditumbuk.
