Oleh: Yusriadi
Lari pagi…. jreng…jreng…
Sungguh sehat sekali…jreng…jreng..
Senandung lagu Lari Pagi, Rhoma Irama, terdengar dari rimbunan padi di belakang saya. Walaupun iramanya tidak pas dengan yang asli, tetapi dapat dinikmati di pagi Sabtu itu.
Setidaknya saya bisa tersenyum mendengar semangat sang penyanyi. Seorang wanita paroh baya –begitu yang saya kira. Saya mengira saja karena jarak antara posisi saya berdiri mencuci motor di depan gang rumah keluarga dengan posisi perempuan itu berada lebih kurang 30 meter. Mata berumur ini tidak awas lagi melihat dalam jarak jangkauan itu.
Lebih dari tersenyum, saya menikmati nyanyian itu: mengingatkan Jongkong 26 tahun lalu. Kala itu, di tahun 1980-an sedang booming film-film Rhoma di bioskop. Saya berkesempatan menonton dan menikmati tontonan kala itu.
Selain film di bioskop, lagu Rhoma Irama memang ada tempat di kalangan orang kampung. Entah di mana pun lagu Rhoma diputar orang. Bahkan sebenarnya hingga sekarang beberapa lagu Bang Haji itu masih punya tempat di hati. Melegenda.
Tapi, nyanyian di rimbunan padi itu juga mengingatkan saya hal lain. Saya jadi ingat fungsi ladang dalam masyarakat. Ladang bukan saja untuk mwndapatkan padi, tetapi juga untuk pengembangan budaya. Salah satu budaya yang berkembang melalui kegiatan berladang adalah sastra lisan.
