Kultur

Senandung Rhoma di Rumpun Padi

Senandung Rhoma di Rumpun Padi

Orang kampung berladang secara gotong royong, dan saat itulah mereka bertukar pantun. Macam-macam isi pantun ditukar takir.

Saat berladang mereka “besungka”. Teka-teki. Teka-teki kadang juga dipantunkan. Cukup mengasyikkan melihat orang berteka-teki. Mencerdaskan juga untuk anak-anak.

Pada kesempatan sama, orang tertentu membuka cerita. Saat istirahat siang, biasanya, ada saja orang tua yang bersedia berbagi cerita lama. Entah cerita pelanduk, pang alui, dll.. Selain untuk meramaikan suasana, menghibur, juga untuk menyampaikan pesan tertentu. Orang muda belajar tentang hidup melalui cerita yang mereka dengar.

Kadang pun ada yang mau “bbamai”, “mmomang”, dan sejenisnya. Mereka menyanyikan lagu-lagu lama, tentu dalam bahasa lokal. Kira-kira mirip situasinya dengan saat orang menyanyi lagu Lari Pagi di rimbunan padi tadi.
Kini, di pedalaman, tradisi ladang mulai ditinggalkan. Kerimbunan padi tidak ada untuk “pentas” sastra lisan. Pedalaman kehilangan salah satu media untuk pemeliharaan sastra lisan. Masyarakat kehilangan satu dua budaya warisan. (*)